Pemerintah Targetkan 10.643 Huntap, Warga Aceh Tamiang Segera Direlokasi
ACEH TAMIANG – Sebanyak 10.643 unit hunian tetap (huntap) direncanakan dibangun bagi masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, dengan target penyelesaian hingga akhir 2027. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.399 unit ditargetkan dibangun pada 2026 dan 8.244 unit lainnya pada 2027 untuk mempercepat perpindahan warga dari hunian sementara ke rumah permanen.
Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (BP3KP) Sumatera I, Arifay Saini, mengatakan pembangunan huntap menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam pemulihan pascabencana. Pembangunan tersebut direncanakan tersebar di 13 desa untuk memenuhi kebutuhan tempat tinggal masyarakat yang kehilangan rumah akibat bencana.
“Mudah-mudahan ini akan segera terwujud sampai akhir tahun 2027,” katanya, sebagaimana diberitakan SuaraSumut, Kamis, (08/10/2026).
Komitmen percepatan pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking huntap relokasi terpusat di Desa Perkebunan Alur Jambu, Kecamatan Bandar Pusaka, Kamis (08/10/2026) sore. Kegiatan tersebut turut mencakup pembangunan prasarana dan sarana utilitas (PSU) untuk mendukung kelayakan kawasan permukiman.
Dalam agenda yang sama, rombongan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infra) menyerahkan bantuan dari Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono kepada masyarakat terdampak bencana.
Deputi Bidang Koordinasi Pembangunan Perumahan dan Sarana Prasarana Permukiman Kemenko Infra, Ronny Ariuly Hutahayan, mengatakan penyediaan rumah permanen menjadi langkah penting agar masyarakat yang saat ini tinggal di hunian sementara (huntara) dapat kembali menempati rumah yang lebih layak.
Saat mengunjungi huntara di Desa Lubuk Sidup, Ronny berdialog dengan warga mengenai kondisi kehidupan mereka setelah bencana. Ia menilai masyarakat telah berupaya menjalani aktivitas sehari-hari bersama keluarga dan anak-anak di tempat penampungan sementara, meskipun keinginan untuk segera pindah ke rumah permanen masih kuat.
“Tentunya mereka memiliki pengharapan untuk dapat segera mungkin pindah ke hunian tetap,” ujar Ronny.
Arifay menjelaskan, pembangunan huntap direncanakan berlangsung di 13 desa, yakni Desa Medan Ara, Bukit Rata, Alur Manis, Pante Peujeur, Punte, Kebun Tanah Terban, Pante Peujeur Dua, Sekumur, Lubuk Sidup, Kampung Babo, Simpang Kiri, Kaloy, dan Perkebunan Alur Jambu.
Pada tahap pembangunan yang ditandai dengan peletakan batu pertama, terdapat dua lokasi yang menjadi bagian dari rencana penyediaan hunian. Desa Babo direncanakan mendapat 246 unit rumah, sedangkan Desa Perkebunan Alur Jambu mendapat 178 unit. Dengan demikian, total pembangunan pada kedua lokasi tersebut mencapai 424 unit huntap.
BP3KP Sumatera I menyatakan akan memastikan pembangunan berjalan sesuai rencana, memenuhi standar mutu, dan dapat segera dimanfaatkan oleh masyarakat. Selain bangunan rumah, penyediaan fasilitas pendukung kawasan menjadi bagian penting agar warga dapat menjalani kehidupan secara layak setelah relokasi.
Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi mengatakan daerahnya menghadapi berbagai ujian berat akibat bencana yang menyebabkan warga kehilangan tempat tinggal dan merusak infrastruktur permukiman.
“Kita harapkan pembangunan ini (huntap) selama 2 tahun bisa terlalisasi dan bisa kita manfaatkan,” katanya.
Percepatan pembangunan huntap diharapkan memberikan kepastian tempat tinggal bagi warga terdampak sekaligus mendukung pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Keberhasilan program tersebut akan bergantung pada ketepatan pelaksanaan, kualitas bangunan, serta kesiapan prasarana dan sarana pendukung agar rumah yang selesai dibangun dapat segera dihuni. []
Redaksi01
