Investor Mulai Pilih-Pilih Saham AI, Wall Street Ditutup Melemah

0
1716330910-1024x683

NEW YORK – Pelemahan saham teknologi dan meningkatnya kekhawatiran terhadap besarnya biaya pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat tiga indeks utama bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (29/10/2026). Kondisi tersebut terjadi meskipun mayoritas perusahaan dalam indeks S&P 500 berhasil membukukan kinerja keuangan di atas perkiraan analis.

Berdasarkan data London Stock Exchange Group (LSEG), sebanyak 253 perusahaan anggota S&P 500 telah menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 81 persen mencatatkan hasil yang melampaui ekspektasi pasar.

LSEG juga memperkirakan pertumbuhan laba agregat perusahaan dalam indeks S&P 500 mencapai 31 persen secara tahunan pada periode tersebut. Namun, capaian positif mayoritas emiten belum mampu mengangkat sentimen pasar, terutama setelah saham perusahaan teknologi mengalami tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap kebutuhan pendanaan investasi AI.

Mengutip Reuters sebagaimana diberitakan Kontan, Jumat, (30/10/2026), indeks Dow Jones Industrial Average ditutup turun 132,54 poin atau 0,25 persen ke level 52.342,56. Indeks S&P 500 terkoreksi 23,59 poin atau 0,30 persen menjadi 7.720,39, sedangkan Nasdaq Composite mengalami penurunan paling dalam sebesar 365,13 poin atau 1,37 persen ke posisi 26.184,72.

Berbeda dengan ketiga indeks tersebut, Russell 2000 yang merepresentasikan saham perusahaan berkapitalisasi kecil justru menguat 1 persen. Pergerakan yang berlawanan ini menunjukkan tekanan pasar tidak terjadi secara merata pada seluruh kelompok saham.

Salah satu pemicu utama tekanan pasar berasal dari kinerja Alphabet, perusahaan induk Google, yang melaporkan pendapatan kuartalan di bawah ekspektasi analis. Saham perusahaan tersebut anjlok 12,6 persen sekaligus memberikan tekanan terhadap sektor jasa komunikasi.

Selain persoalan pendapatan, investor juga mencermati peningkatan pengeluaran kas Alphabet untuk mengembangkan teknologi AI. Besarnya kebutuhan modal tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan perusahaan teknologi menghasilkan keuntungan yang sebanding dengan investasi yang telah dikeluarkan.

Perhatian investor kini tidak hanya tertuju pada potensi pertumbuhan bisnis berbasis AI, tetapi juga kemampuan perusahaan membiayai ekspansi menggunakan arus kas internal. Perusahaan yang terlalu bergantung pada pembiayaan utang dinilai menghadapi tantangan berbeda dibandingkan emiten yang memiliki sumber pendanaan lebih kuat.

Analis strategi investasi Baird, Ross Mayfield, menilai perbedaan pergerakan saham menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap prospek AI tidak serta-merta menghilangkan peluang investasi di sektor lain.

“Masih banyak pilihan investasi lain di luar perdagangan saham AI yang memiliki prospek cukup baik,” ujar Mayfield.

Tekanan juga menjalar ke sektor semikonduktor. Setelah mencatatkan kenaikan selama empat hari berturut-turut, indeks saham industri tersebut terkoreksi 1,4 persen. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap besarnya kebutuhan pendanaan untuk pengembangan infrastruktur AI.

Selain persoalan investasi teknologi, pelaku pasar juga menghadapi ketidakpastian arah kebijakan moneter AS. Sehari sebelum perdagangan Kamis, bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya.

The Fed mengakui tekanan harga masih tinggi dan membutuhkan tambahan informasi sebelum menentukan kebijakan berikutnya. Keputusan tersebut membuat perkembangan inflasi dan pertumbuhan ekonomi menjadi perhatian utama investor.

Data ekonomi yang dirilis pada Kamis menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III-2026 lebih cepat dibandingkan perkiraan. Namun, perkembangan tersebut juga diikuti percepatan kenaikan harga.

Gangguan pasokan minyak akibat konflik turut memperbesar tekanan inflasi. Situasi ini menempatkan The Fed dalam posisi yang tidak mudah karena harus mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi yang kuat sekaligus menjaga stabilitas harga.

Kondisi tersebut membuat pasar menghadapi dua tantangan secara bersamaan, yakni ketidakpastian biaya investasi teknologi dan kemungkinan suku bunga bertahan pada tingkat yang membatasi ekspansi bisnis.

Di tengah pelemahan indeks utama, sejumlah perusahaan justru mencatatkan penguatan saham setelah mengumumkan kinerja keuangan yang lebih baik atau prospek bisnis yang positif.

Saham Eli Lilly menguat 6,6 persen setelah perusahaan farmasi tersebut menaikkan proyeksi pendapatan. Kenaikan itu didukung penjualan obat penurun berat badan.

Saham Ford juga melonjak 12,4 persen setelah pendapatan kuartal III melampaui ekspektasi pasar. Sementara itu, Merck menguat 3,8 persen berkat kinerja yang lebih baik dari perkiraan, ditopang penjualan obat kanker Keytruda dan vaksin Gardasil untuk mencegah infeksi human papillomavirus (HPV).

Sebaliknya, saham Caterpillar merosot 9,3 persen meskipun produsen alat berat tersebut membukukan laba kuartalan di atas perkiraan analis. Investor mencermati keputusan perusahaan yang tetap mempertahankan target pertumbuhannya.

Tekanan lebih besar terjadi pada sektor perangkat lunak. Saham Fortinet dan ServiceNow masing-masing anjlok lebih dari 20 persen setelah merilis laporan keuangan kuartalan.

Marvell Technology juga mengalami penurunan 13,2 persen menyusul pemberitaan mengenai pembicaraan lanjutan untuk mengakuisisi Lumentum Holdings, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi optik untuk pusat data. Di sisi lain, saham Lumentum justru menguat 0,6 persen.

Tekanan terhadap saham teknologi berlanjut setelah penutupan perdagangan reguler. Dalam transaksi after-hours, saham Amazon turun 6,5 persen setelah perusahaan memberikan proyeksi penjualan kuartal IV yang mengecewakan pasar.

Perbedaan kinerja antarperusahaan memperlihatkan bahwa investor semakin mempertimbangkan kualitas pendapatan, prospek pertumbuhan, serta kemampuan perusahaan mengelola kebutuhan modal.

Meskipun 81 persen emiten S&P 500 telah membukukan hasil di atas perkiraan analis, capaian tersebut belum cukup untuk menghapus kekhawatiran mengenai tingginya pengeluaran AI dan tekanan inflasi.

Perkembangan ekonomi AS serta keputusan kebijakan moneter The Fed juga akan menjadi faktor penting yang memengaruhi arah investasi berikutnya.

Dengan demikian, pergerakan pasar saham AS ke depan tidak hanya bergantung pada pertumbuhan laba perusahaan, tetapi juga pada kemampuan emiten membuktikan bahwa investasi teknologi yang besar dapat menghasilkan keuntungan berkelanjutan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *