Penjualan Rumah Australia Anjlok 23 Persen, Pasar Properti Tertekan

0
Penjualan Rumah Australia Anjlok 23 Persen, Pasar Properti Tertekan

AUSTRALIA – Mahalnya biaya pembiayaan mulai menggerus aktivitas pasar perumahan Australia. Penjualan rumah anjlok 23 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sementara harga properti nasional terus melemah selama tujuh bulan berturut-turut hingga Oktober 2026.

Data perusahaan riset properti Cotality menunjukkan harga rumah nasional Australia turun 1,2 persen pada Oktober dibandingkan bulan sebelumnya. Koreksi tersebut memperpanjang penurunan setelah harga rumah pada September merosot 1,3 persen.

Secara akumulatif, harga properti Australia telah kehilangan 6,7 persen dari nilai puncaknya pada Maret 2026. Jika dibandingkan dengan Oktober tahun lalu, harga rumah nasional juga lebih rendah 2,8 persen.

Tekanan lebih besar terjadi di ibu kota negara bagian. Dalam tujuh bulan, harga properti di kawasan tersebut terkoreksi 8,1 persen. Cotality menyebut laju penurunan itu sebagai yang terdalam dalam empat dekade terakhir.

Brisbane dan Perth termasuk kota yang mengalami pelemahan cukup tajam. Harga rumah di Brisbane turun 2 persen pada Oktober, sedangkan Perth mencatat koreksi 1,7 persen. Penurunan tersebut menghapus sebagian kenaikan harga yang sebelumnya terbentuk selama lima tahun terakhir.

Merosotnya transaksi menjadi salah satu gambaran paling nyata dari tekanan pasar. Penjualan rumah tercatat 23 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan 18 persen di bawah rata-rata lima tahunan. Di Sydney, penurunan transaksi bahkan mencapai sekitar 30 persen.

Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya biaya pinjaman yang membatasi kemampuan masyarakat membeli rumah. Suku bunga tinggi membuat cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) semakin mahal sehingga sebagian calon pembeli memilih menunda transaksi.

Di tengah pelemahan permintaan, pembeli yang masih aktif justru memiliki lebih banyak pilihan properti dan posisi tawar yang lebih kuat. Namun, rendahnya kepercayaan konsumen serta keterbatasan daya beli membuat kondisi itu belum cukup untuk menghidupkan kembali pasar.

Sebagaimana diberitakan Detik, Senin (02/11/2026), tekanan terhadap pasar perumahan Australia juga berpotensi berlanjut apabila bank sentral Australia atau Reserve Bank of Australia (RBA) kembali menaikkan suku bunga acuan.

Pasar keuangan memperkirakan peluang kenaikan suku bunga hingga 4,85 persen mencapai hampir 90 persen. Jika terwujud, tingkat tersebut akan menjadi yang tertinggi dalam 18 tahun terakhir dan berpotensi menambah beban pembiayaan bagi masyarakat yang ingin membeli rumah.

Meski demikian, RBA menilai sebagian besar pemilik rumah masih memiliki ekuitas positif, bahkan apabila harga properti turun hingga 20 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga belum serta-merta membuat mayoritas pemilik rumah memiliki nilai aset lebih rendah daripada kewajiban pinjamannya.

Perkembangan berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan suku bunga, kemampuan beli masyarakat, dan pemulihan kepercayaan konsumen. Selama biaya pinjaman masih tinggi, pasar properti Australia berpotensi menghadapi tekanan pada harga maupun volume transaksi. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *