Lonjakan Pembunuhan, Trinidad dan Tobago Umumkan Keadaan Darurat

JAKARTA – Trinidad dan Tobago mengumumkan keadaan darurat Senin waktu setempat. Ini terjadi karena lonjakan pembunuhan oleh kelompok kriminal (gangster) yang merajalela di negeri tersebut.

“Keadaan yang mengharuskan pernyataan keadaan darurat publik didasarkan pada saran dari Kepolisian Trinidad dan Tobago kepada Dewan Keamanan Nasional,” kata kantor Perdana Menteri (PM) Keith Rowley dalam sebuah pernyataan, dikutip AFP, Selasa (31/12/2024).

“Meningkatnya aktivitas kriminal kini membahayakan keselamatan publik,” tegasnya lagi.

Pengumuman gawat darurat ini akan memberi polisi kewenangan untuk melakukan penggeledahan dan penangkapan tanpa surat perintah selama dua hari ke depan. Bahkan otoritas polisi bisa diperpanjang hingga tujuh hari.

Mengutip data Kejaksaan Agung, negara itu mencatat 61 pembunuhan pada bulan Desember, sehingga total tahun ini menjadi 623 pembunuhan. Angka itu meningkat dari 577 pembunuhan yang tercatat pada tahun 2023 dan 599 pada tahun 2022.

“Keadaan darurat publik tidak akan mencakup jam malam atau membatasi pergerakan orang, untuk meminimalkan dampak ekonomi dari deklarasi tersebut,” kata Jaksa Agung Stuart Young dalam sebuah konferensi pers di ibu kota Port of Spain.

Menteri Keamanan Nasional Fitzgerald Hinds menyebut lonjakan pembunuhan dengan kekerasan sebagai “wabah” bagi negara berpenduduk 1,4 juta jiwa. Di mana ada 551 penembakan tercatat tahun ini, hingga 26 Desember.

Insiden kekerasan baru-baru ini termasuk seorang pria yang ditembak dan dibunuh setelah meninggalkan kantor polisi di Port of Spain pada hari Sabtu, dan penembakan di Laventille, Trinidad, pada hari Minggu yang menewaskan lima orang.

Keadaan darurat sebelumnya telah mendeklarasikan untuk alasan yang sama pada tahun 2011, tetapi penerapan nya terbatas pada “titik rawan” kejahatan. []

Nur Quratul Nabila A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *