Polresta Jambi Gagalkan Penjualan 10 Kilogram Sisik Trenggiling, Tiga Pelaku Ditangkap

JAMBI – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Jambi melalui Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) berhasil menggagalkan upaya penjualan 10 kilogram sisik trenggiling yang berasal dari Limbur, Sabak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Kasi Humas Polresta Jambi, Ipda Deddy, dalam keterangan tertulis pada Rabu (26/2/2025), mengungkapkan bahwa kasus tindak pidana konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem ini terungkap di Kelurahan Sijenjang, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi.
Pengungkapan kasus ini bermula dari informasi yang diterima Unit Tipidter Satreskrim Polresta Jambi mengenai adanya upaya penjualan bagian tubuh hewan dilindungi berupa sisik trenggiling. Setelah menerima laporan tersebut, tim kepolisian segera melakukan penyelidikan untuk memastikan kebenarannya.
“Setelah dilakukan pendalaman, personel menemukan adanya pihak yang ingin menjual sisik trenggiling. Kemudian, penyidik berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk melakukan penyamaran melalui metode pembelian terselubung (undercover buy),” ujar Ipda Deddy.
Dalam operasi ini, tim berhasil menangkap tiga pelaku secara langsung saat transaksi berlangsung. Mereka adalah MT (48), warga Desa Lambur, Tanjung Jabung Timur, yang merupakan pemilik barang; WW (43), warga Desa Tangkit, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi, yang berperan sebagai kurir; serta TMS (33), warga Kecamatan Jelutung, Kota Jambi, yang bertugas sebagai perantara penjualan.
“Dari tangan para pelaku, kami mengamankan barang bukti berupa 10 kilogram sisik trenggiling yang dikemas dalam karung plastik, serta satu unit sepeda motor yang digunakan dalam transaksi,” jelas Deddy.
Saat ini, ketiga pelaku telah diamankan di Mapolresta Jambi guna menjalani proses hukum lebih lanjut. Mereka dijerat dengan Pasal 21 ayat (2) juncto Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Penegakan hukum terhadap perdagangan ilegal satwa dilindungi terus dilakukan untuk menjaga kelestarian spesies yang terancam punah. Kepolisian mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan jika mengetahui adanya praktik perdagangan ilegal satwa yang dilindungi. []
Nur Quratul Nabila A