Polisi Gagalkan Penyelundupan 46 Ribu Benih Lobster ke Singapura

TANGERANG – Kepolisian Resor Kota (Polresta) Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Polda Metro Jaya, berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 46 ribu benih bening lobster (BBL) yang akan dikirim ke Singapura.
Dalam kasus ini, polisi menangkap tiga orang terduga pelaku berinisial M, AS, dan SP, sementara satu tersangka berinisial J masih dalam daftar pencarian orang (DPO) dan diduga sebagai dalang utama penyelundupan.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bandara Soetta, Kompol Yandri Mono, mengungkapkan bahwa nilai ekonomi benih lobster tersebut ditaksir mencapai Rp1,8 miliar.
“Salah satu tersangka, yakni M, merupakan residivis yang sebelumnya pernah terlibat dalam kasus serupa,” ujar Yandri di Tangerang, Rabu (26/2/2025).
Kasus ini terungkap berkat laporan masyarakat mengenai rencana pengiriman sebuah koper berisi benih lobster melalui Terminal Kargo Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Setelah melakukan penyelidikan, polisi menangkap dua tersangka, M dan SP, di area pemasaran Alam Raya Bandara, Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda, Kota Tangerang, saat mereka hendak mengantarkan benih lobster ke kargo.
Dari tangan para pelaku, polisi menyita satu koper berwarna abu-abu yang berisi 30 bungkus plastik berisi 46 ribu ekor benih lobster jenis pasir dan mutiara. Para pelaku menggunakan modus penyelundupan dengan mengemas benih lobster dalam kantong plastik berisi oksigen, lalu memasukkannya ke dalam koper agar tidak mencurigakan saat dikirim melalui kargo.
Setelah paket tiba di Singapura, M dan SP bertugas mengambil dan menyerahkannya kepada pihak lain di negara tersebut.
“Peran mereka hanya sebagai kurir yang mengantarkan benih lobster ke Singapura, sementara pihak lain yang menangani distribusi selanjutnya,” jelas Yandri.
Untuk menjalankan aksinya, para kurir mendapatkan bayaran sebesar Rp5 juta per orang, sementara AS yang berperan dalam membuka jalur pengiriman menerima Rp1 juta.
Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 92 juncto Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi Undang-Undang.
Mereka juga dikenakan Pasal 88 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan serta Pasal 87 juncto Pasal 34 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.
“Para pelaku terancam hukuman penjara maksimal delapan tahun dan denda hingga Rp1,5 miliar,” pungkas Yandri.
Kasus penyelundupan benih lobster terus menjadi perhatian aparat penegak hukum karena merugikan negara serta mengancam keberlanjutan sumber daya laut Indonesia. Polresta Bandara Soetta berkomitmen untuk terus memperketat pengawasan guna mencegah praktik ilegal ini di masa mendatang. []
Nur Quratul Nabila A