Ambisi Rp126 Miliar, BUMD NTT Diuji Realisasi

KUPANG – Lonjakan target dividen Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga Rp126 miliar pada 2026 dinilai berpotensi menimbulkan risiko ketidaktercapaian, meski di sisi lain dipandang sebagai strategi mendorong kinerja perusahaan daerah.

Target ambisius tersebut menjadi sorotan karena meningkat dua hingga tiga kali lipat dibandingkan target maupun realisasi tahun sebelumnya. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran publik terkait kemungkinan target hanya bersifat optimistis tanpa didukung perhitungan yang matang.

Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nusa Tenggara Timur (NTT), Alexander Take Ofong, menilai target tersebut perlu dikaji secara realistis agar tidak sekadar menjadi angka di atas kertas.

“Sepintas target PAD TA 2026 yang ditetapkan untuk empat BUMD Pemprov sangat optimistis, bahkan dua kali dari target tahun sebelumnya dan ada yang lebih dari tiga kali realisasi tahun 2025,” kata Alex, sebagaimana diberitakan Victorynews, Minggu, (15/03/2026).

Ia menegaskan, penetapan target harus berbasis analisis bisnis yang terukur agar tidak terkesan sebagai budaya Asal Bapak Senang (ABS).

“Target tersebut sulit untuk dicapai. Ada beberapa BUMD yang selama ini belum memberikan kontribusi PAD namun tetap diberikan target untuk menyumbangkan PAD, seperti KI Bolok dan PT Flobamor,” ujarnya.

Meski demikian, Alex mengakui bahwa target tinggi dapat menjadi pemicu peningkatan kinerja BUMD apabila diiringi langkah konkret dari Pemprov NTT, termasuk penempatan sumber daya manusia yang kompeten dan evaluasi berkala.

“Kita berharap Pemprov NTT benar-benar memperhatikan penempatan personalia yang kompeten dan terus melakukan evaluasi kinerja BUMD secara melekat,” ujarnya.
“Kami di Komisi III DPRD NTT sudah berkomitmen untuk terus mendukung dan mendorong kinerja BUMD melalui pemantauan langsung maupun rapat evaluasi secara berkala setiap tiga bulan untuk melihat progres serta mencari solusi terhadap berbagai persoalan dan tantangan yang dihadapi,” katanya.

Dari sisi akademisi, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Nusa Cendana (Undana), Rolland Fanggidae, melihat target tinggi sebagai bagian dari pendekatan stretch goals yang lazim digunakan dalam organisasi untuk mendorong inovasi dan keluar dari zona nyaman.

Ia mencontohkan, PT Bank NTT menargetkan dividen hingga Rp110 miliar, melonjak dari realisasi sekitar Rp29,7 miliar pada 2025. Sementara PT Jamkrida NTT menargetkan Rp15 miliar, meningkat sekitar 100 persen dari capaian sebelumnya.

“Keberanian manajemen Bank NTT dan Jamkrida dalam menetapkan target tinggi patut diapresiasi sebagai sinyal positif bagi perekonomian daerah,” ujar Rolland.

Namun demikian, ia mengingatkan pentingnya keseimbangan antara ambisi dividen dan kualitas kinerja, termasuk menjaga rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) serta efisiensi operasional. Ia juga menekankan pentingnya penyaluran kredit ke sektor riil seperti usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan pertanian.

Rolland menilai sinergi antara Bank NTT dan Jamkrida NTT dapat memperluas akses pembiayaan, termasuk melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan ultra mikro.

Sementara itu, pengamat ekonomi regional NTT James Adam menilai pencapaian target sangat bergantung pada strategi bisnis yang dijalankan manajemen masing-masing BUMD, khususnya dalam meningkatkan volume penjaminan kredit.

“Jika jumlah UMKM tidak bertambah dan nilai jaminannya kecil, maka dampaknya terhadap keuntungan perusahaan juga akan terbatas,” katanya.

Ia juga menyoroti beban operasional Bank NTT yang cukup besar karena jaringan layanan yang tersebar hingga tingkat kabupaten, kota, dan kecamatan di wilayah NTT.

“Tahun 2025 dengan target Rp55 miliar saja realisasinya hanya Rp29,7 miliar. Jika tahun 2026 ditetapkan lebih tinggi, maka bebannya tentu semakin berat,” kata James.

Menurutnya, meskipun Bank NTT didukung oleh simpanan pihak ketiga, terutama dari aparatur sipil negara (ASN) dan dana pemerintah daerah, tekanan tetap berpotensi muncul jika pertumbuhan dana tidak sejalan dengan ekspansi bisnis.

Dengan kombinasi target tinggi, tantangan operasional, dan ketergantungan pada pertumbuhan sektor riil, capaian dividen BUMD NTT pada 2026 akan sangat ditentukan oleh efektivitas strategi, pengawasan, serta kondisi ekonomi daerah ke depan. []

Penulis: Mikael Umbu, Kekson Salukh| Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *