AS Dorong India Kurangi Minyak Rusia Lewat Kesepakatan Venezuela
JAKARTA — Arah kebijakan impor energi India kembali menjadi sorotan global setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan rencana pembelian minyak India dari Venezuela. Kesepakatan ini dipandang sebagai bagian dari penataan ulang rantai pasok energi dunia yang sarat kepentingan geopolitik, khususnya di tengah upaya AS menekan ketergantungan negara-negara besar terhadap minyak Rusia.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Trump kepada media internasional. Ia menyebut kesepakatan tersebut telah memasuki tahap awal dan akan mengubah pola impor minyak India ke depan.
“Kami sudah membuat kesepakatan itu, konsep kesepakatannya,” kata Trump, dikutip dari CNBC, Senin (02/01/2026).
Dalam kesepakatan tersebut, minyak mentah asal Venezuela disebut akan menggantikan sebagian pasokan minyak Rusia yang selama ini menjadi andalan India. Selama dua tahun terakhir, India tercatat sebagai salah satu pembeli utama minyak Rusia dengan harga diskon, menyusul sanksi Barat terhadap Moskow akibat invasi ke Ukraina pada 2022.
Namun, langkah India itu tidak luput dari tekanan Amerika Serikat. Pemerintahan Trump secara terbuka menyatakan ketidakpuasannya atas kebijakan New Delhi yang tetap membeli minyak Rusia. Tekanan tersebut diwujudkan melalui kenaikan tarif impor terhadap produk asal India.
Hubungan dagang energi antara India dan Venezuela sendiri bukanlah hal baru. India pernah menjadi pelanggan tetap minyak Venezuela, sebelum akhirnya menghentikan impor pada tahun lalu. Penghentian tersebut terjadi setelah AS memberlakukan tarif tambahan sebesar 25% pada negara-negara yang membeli minyak Venezuela pada Maret.
Dalam perkembangan terbaru, Trump menyebut bahwa pembelian minyak Venezuela juga dimaksudkan sebagai pengganti impor minyak dari Iran. Seperti diketahui, India menghentikan pembelian minyak Iran sejak 2019, menyusul sanksi AS terkait program nuklir Teheran.
Kala itu, India sempat mengalihkan impor minyaknya ke Amerika Serikat untuk menutup kekurangan pasokan. Namun, seiring waktu, pembelian dari AS menurun dan India justru memperbesar porsi impor dari Rusia yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Tekanan AS terhadap India kembali meningkat pada Agustus lalu, ketika Trump menggandakan bea masuk impor dari India menjadi 50%. Langkah tersebut bertujuan mendorong India mengurangi ketergantungan pada minyak Rusia. Bahkan, pada awal Januari 2026, pemerintah AS memberi sinyal tarif tersebut masih berpotensi dinaikkan jika India tidak segera mengubah kebijakan impornya.
Meski demikian, angin segar muncul setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan sinyal bahwa tambahan tarif 25% terhadap barang-barang India dapat dicabut. Sinyal tersebut muncul seiring adanya penurunan signifikan impor minyak Rusia oleh India dalam beberapa bulan terakhir.
Di sisi lain, pemerintah AS juga mengambil langkah strategis dengan mencabut sebagian sanksi terhadap industri minyak Venezuela. Kebijakan ini membuka ruang bagi perusahaan-perusahaan AS untuk kembali menjual dan menyalurkan minyak mentah Venezuela ke pasar global, termasuk ke India.
Kesepakatan ini menandai membaiknya hubungan AS dan India setelah sempat diwarnai ketegangan sepanjang tahun lalu. Peralihan pasokan minyak India ke Venezuela dinilai bukan hanya soal perdagangan energi, tetapi juga bagian dari diplomasi ekonomi dan politik global yang lebih luas.
Bagi Venezuela, kesepakatan ini berpotensi membuka kembali akses pasar besar di Asia. Sementara bagi India, diversifikasi sumber energi diharapkan mampu menjaga ketahanan pasokan tanpa harus menghadapi tekanan geopolitik yang berlebihan dari satu pihak. []
Siti Sholehah.
