AS Tekan Iran dengan Ancaman Militer di Tengah Penolakan Dialog
WASHINGTON DC — Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase kritis setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Teheran. Trump menegaskan bahwa waktu yang dimiliki Iran untuk menghindari kemungkinan intervensi militer semakin menipis, menyusul penolakan Iran terhadap pembukaan jalur negosiasi di tengah situasi regional yang memanas.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Iran, terutama setelah tindakan keras aparat keamanan Iran dalam merespons gelombang protes domestik pada bulan ini. Situasi itu diperparah oleh dampak berkepanjangan dari konflik bersenjata selama 12 hari pada Juni lalu antara Iran dan Israel, yang melibatkan dukungan langsung Amerika Serikat.
Dilansir AFP, Rabu (28/01/2026), Trump menegaskan bahwa opsi militer tetap berada di atas meja dan tidak pernah sepenuhnya dikesampingkan oleh pemerintahannya. Ia menyampaikan seruan terbuka kepada Iran agar segera mengambil langkah diplomatik sebelum situasi berkembang menjadi konflik terbuka yang lebih luas.
“Semoga Iran segera ‘Datang ke Meja Perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata -tanpa senjata nuklir- kesepakatan yang baik untuk semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!” kata Trump.
Trump juga merujuk pada serangan militer Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran selama konflik pada Juni lalu. Menurutnya, serangan tersebut telah memberikan dampak besar terhadap kemampuan strategis Iran. Ia bahkan mengeluarkan peringatan lanjutan dengan nada lebih tegas.
Merujuk pada serangan Amerika terhadap target nuklir Iran selama perang Juni yang menurutnya mengakibatkan “kehancuran besar Iran”, ia menambahkan: “Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi”.
Di sisi lain, para pengamat politik internasional menilai pernyataan Trump sebagai bagian dari strategi tekanan maksimum terhadap Teheran. Sejumlah analis menyebutkan bahwa opsi yang tengah dipertimbangkan Washington mencakup serangan terbatas terhadap fasilitas militer strategis hingga kemungkinan operasi yang menyasar lingkaran kepemimpinan tertinggi Iran di bawah Ayatollah Ali Khamenei. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya untuk melemahkan sistem pemerintahan Iran yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.
Namun, di tengah ancaman tersebut, Iran secara tegas membantah klaim Trump mengenai adanya permintaan dialog dari pihak Teheran. Pemerintah Iran menilai pernyataan Presiden AS tersebut tidak berdasar dan bertentangan dengan sikap resmi negara itu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, seperti dilansir Reuters, Rabu (28/01/2026), menyampaikan bahwa tidak ada komunikasi antara dirinya dan Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dalam beberapa hari terakhir.
“Tidak ada kontak antara saya dan Witkoff dalam beberapa hari terakhir, dan tidak ada permintaan untuk negosiasi yang diajukan dari kami,” kata Araghchi saat berbicara kepada media pemerintah Iran, Rabu (28/01/2026) waktu setempat.
Penegasan ini sekaligus memperlihatkan jurang perbedaan sikap antara kedua negara. Sementara Washington terus mendorong dialog dengan disertai ancaman tekanan militer, Teheran menegaskan bahwa pendekatan semacam itu tidak dapat dijadikan dasar bagi perundingan yang setara.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru di kalangan komunitas internasional mengenai potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Sejumlah negara dan organisasi internasional terus menyerukan penahanan diri dari kedua belah pihak, mengingat dampak luas yang dapat ditimbulkan jika konflik bersenjata kembali pecah.
Hingga kini, belum ada tanda-tanda pelunakan sikap dari masing-masing pihak. Pernyataan keras yang saling dilontarkan justru menunjukkan bahwa jalur diplomasi masih menghadapi jalan terjal di tengah bayang-bayang ancaman militer. []
Siti Sholehah.
