Asia Kembali ke Minyak Rusia: Bagaimana Indonesia?

MOSKOW – Pada pertengahan Maret lalu, Washington membuat keputusan yang jarang terjadi di era pemerintahan Presiden Biden. Departemen Keuangan AS secara mengejutkan mengizinkan sejumlah negara membeli minyak Rusia yang sebelumnya diblokir sanksi, sekitar 100 juta barel yang sudah berada di laut, dengan masa berlaku izin 30 hari.

Ibarat gayung bersambut, Jepang segera membuka kembali diskusi internal terkait pelonggaran sanksi energi terhadap Rusia. Thailand pun menyiapkan negosiasi pembelian minyak dengan Moskow, sementara Sri Lanka secara resmi mengajukan permintaan pasokan energi. Korea Selatan mulai meninjau kembali posisinya setelah lebih dari setahun menghentikan impor minyak Rusia.

Fenomena ini bukan sekadar kabar bursa. Pakar energi menilai hal ini menjadi sinyal bahwa peta energi Asia sedang digambar ulang. Indonesia tidak bisa hanya menjadi penonton.

Negara-negara Asia terdorong mendekat ke Rusia karena ketidakpastian di Timur Tengah. Ancaman Iran menutup Selat Hormuz jalur yang melintasi 15-20 persen pasokan minyak dunia membuat harga minyak Brent sempat melonjak hingga 120 dolar per barel, level tertinggi sejak 2022. Selama dua tahun terakhir, ketergantungan Asia terhadap minyak Timur Tengah terlihat jelas, dan konflik di kawasan itu mengguncang stabilitas ekonomi mereka.

Rusia muncul sebagai alternatif yang tangguh. Pada 2025, ekspor minyak Rusia mencapai 238 juta ton, dengan 94 persen dikirim ke negara-negara “bersahabat” seperti India dan Tiongkok. Dengan izin terbatas dari AS, negara-negara Asia lain mulai mempertimbangkan untuk kembali membeli minyak Rusia, termasuk Jepang dan Korea Selatan. Thailand pun tetap menjadi pasar penting meski volumenya lebih kecil.

Diskon besar menjadi magnet utama minyak Rusia. India misalnya, membeli minyak murah, mengolah, lalu mengekspor kembali produk minyak dengan keuntungan signifikan. Dengan adanya izin AS, risiko sanksi menurun, sehingga harga bisa lebih mendekati pasar. Namun analis memperingatkan, transaksi riil kerap disertai skema pembayaran khusus atau perantara untuk mengakali pembatasan finansial.

Gelombang negara Asia kembali ke minyak Rusia bukan tren sesaat. Ini respons struktural terhadap fragmentasi pasar energi global dan risiko ketergantungan berlebihan pada satu kawasan.

Indonesia berbeda dengan India atau Thailand karena selain importir, Indonesia juga produsen minyak, meski produksinya menurun. Dampak langsung terlihat pada subsidi energi yang membebani APBN. Setidaknya ada tiga implikasi:

Jangka pendek: permintaan terhadap minyak Timur Tengah sedikit berkurang.

Jangka menengah: struktur harga regional berubah, membuka ruang manuver negosiasi.

Strategis: keberhasilan Rusia mengalihkan ekspor ke negara sahabat menekankan pentingnya posisi politik dan kerja sama strategis.

Namun, membeli minyak Rusia memiliki risiko diplomatik karena Indonesia tetap menjaga hubungan baik dengan Barat. Sistem pembayaran, asuransi, dan risiko sanksi sekunder harus diperhitungkan.

Empat langkah yang disarankan: diversifikasi pasokan energi, memperkuat diplomasi energi regional, menjajaki kerja sama ASEAN, dan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri. “Ketahanan energi sejati dimulai dari dalam negeri,” tegas Amy Maulana.

Pragmatisme menjadi kunci. Kepentingan nasional harus diutamakan, dengan membaca peta risiko, memanfaatkan peluang, dan tetap waspada. Pasokan yang stabil dan harga yang terjangkau adalah denyut nadi ekonomi, menentukan industri, transportasi, hingga kehidupan rumah tangga. Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton. []

Penulis: Amy Maulana – Expert Rusia-Indonesia, ANO Center for Mediastrategi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *