Ayam Lebih Murah, Tapi Belum Ideal: Selisih Harga Masih Jadi Masalah
GARUT – Penurunan harga ayam di sejumlah pasar belum sepenuhnya meringankan beban konsumen karena sebagian komoditas masih dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), meski tren penurunan mulai terlihat pada awal April 2026.
Berdasarkan data per 1 April 2026, harga ayam broiler tercatat Rp15.167 per kilogram atau turun tipis Rp8 dibanding hari sebelumnya. Namun, angka tersebut masih melampaui HET sebesar Rp14.900 dengan selisih Rp267. Kondisi serupa terjadi pada daging ayam ras utuh yang turun menjadi Rp14.194 per kilogram, tetapi tetap berada di atas HET Rp13.500 dengan selisih Rp694.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun ada koreksi harga di tingkat pasar, efektivitas kebijakan pengendalian harga masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga keterjangkauan bagi masyarakat berpendapatan rendah.
Di sisi lain, tidak semua jenis ayam mengalami penurunan. Harga ayam kampung justru naik tipis menjadi Rp15.864 per kilogram dari sebelumnya Rp15.846. Untuk komoditas ini, pemerintah belum menetapkan HET sehingga harga sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.
Sementara itu, penurunan paling signifikan terjadi pada ayam ras hidup yang turun Rp357 menjadi Rp13.000 per kilogram. Sebaliknya, ayam potong justru mengalami kenaikan tipis ke Rp18.789 per kilogram, masih jauh di atas HET Rp17.500.
Dinamika harga ini tidak berdiri sendiri. Sejumlah komoditas pangan lain juga mengalami fluktuasi. Harga cabai merah keriting naik menjadi Rp39.474 per kilogram, masih di bawah HET Rp40.000. Adapun cabai rawit merah turun tajam Rp444 menjadi Rp20.842, meskipun tetap melampaui HET Rp15.700. Harga telur ayam ras juga turun menjadi Rp24.526 per kilogram.
Data tersebut dihimpun dari laman pemantauan bahan pokok penting (bapokting) milik Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Garut (Garut), sebagaimana dilansir Bloomberg Technoz, Kamis, (02/04/2026).
Fluktuasi harga ayam dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari pasokan di tingkat peternak, biaya pakan, hingga permintaan pasar. Ketersediaan pasokan yang relatif stabil pada awal April 2026 diduga menjadi penyebab utama turunnya harga beberapa jenis ayam.
Namun, tekanan biaya produksi, terutama pakan ternak, masih menjadi faktor yang menahan penurunan harga agar tidak lebih dalam. Selain itu, distribusi dan rantai pasok juga berperan dalam menentukan harga akhir di tingkat konsumen.
Pemerintah melalui berbagai kebijakan terus berupaya menjaga stabilitas harga, termasuk penetapan HET dan pengawasan distribusi. Upaya ini diharapkan mampu menekan selisih antara harga pasar dan HET agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Ke depan, tren harga ayam diperkirakan masih fluktuatif, terutama menjelang periode peningkatan permintaan seperti hari raya. Oleh karena itu, masyarakat diimbau aktif memantau informasi harga resmi dan berbelanja secara bijak guna mengoptimalkan pengeluaran rumah tangga. []
Penulis: Intan Permatasari | Penyunting: Redaksi01
