Bank Sentral Dunia Tahan Suku Bunga, Dampak Konflik Timur Tengah Menguat
NEW YORK – Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong mayoritas bank sentral dunia menahan suku bunga sepanjang Maret 2026, sebagai langkah antisipatif terhadap risiko inflasi yang meningkat dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global.
Kebijakan ini mencerminkan sikap hati-hati otoritas moneter di berbagai negara, baik maju maupun berkembang, yang memilih menjaga stabilitas dibanding mengambil langkah agresif di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, sebagian besar bank sentral mempertahankan suku bunga acuan atau hanya melakukan penyesuaian terbatas. Kondisi ini dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak dan ketegangan geopolitik yang memperumit arah kebijakan moneter global.
Analis dari JPMorgan sebelumnya telah memperkirakan kecenderungan tersebut. Mereka menilai otoritas moneter masih membutuhkan waktu untuk mengukur dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang.
Dalam catatan analis tersebut, proyeksi mengarah pada kombinasi inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah, sehingga mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan netral, sebagaimana dilansir Cna, Sabtu, (04/04/2026).
Di negara maju, kecenderungan mempertahankan kebijakan terlihat dominan. Dari sembilan pertemuan bank sentral selama Maret, delapan di antaranya memutuskan tidak mengubah suku bunga. Hanya Australia yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, tanpa adanya pemangkasan dari negara maju lainnya sepanjang periode tersebut.
Sementara itu, di negara berkembang atau emerging markets, kebijakan moneter menunjukkan variasi yang lebih dinamis meski tetap dilandasi prinsip kehati-hatian. Dari 15 pertemuan, sebanyak 10 bank sentral memilih menahan suku bunga, sedangkan empat negara melakukan pemangkasan terbatas, termasuk Rusia sebesar 50 basis poin, serta Brasil, Meksiko, dan Polandia masing-masing 25 basis poin.
Di sisi lain, Kolombia justru mengambil langkah berbeda dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin. Kebijakan tersebut bahkan memicu penarikan perwakilan pemerintah dari dewan bank sentral setempat.
Sejumlah negara seperti Indonesia, Afrika Selatan, Filipina, Hungaria, dan Republik Ceko juga memilih menunda atau membatasi pemangkasan suku bunga. Langkah ini secara eksplisit dikaitkan dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang dinilai berpotensi memperburuk tekanan inflasi global.
Sepanjang tahun berjalan, bank sentral di emerging markets mencatat pelonggaran bersih sebesar 175 basis poin, hasil dari akumulasi pemangkasan dan kenaikan suku bunga yang dilakukan secara selektif.
Perbedaan kebijakan ini menunjukkan bahwa tekanan inflasi global tidak merata, sehingga setiap negara menyesuaikan strategi moneter sesuai kondisi domestik masing-masing. Ke depan, arah kebijakan suku bunga diperkirakan masih akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan dinamika harga energi dunia. []
Penulis: Richard Alkhalik | Penyunting: Redaksi01
