BBM di AS Tembus Level Tertinggi Sejak 2022, Warga Tertekan
JAKARTA – Lonjakan harga energi global mulai menekan konsumen di Amerika Serikat (AS), ditandai dengan kenaikan harga bensin ke level tertinggi sejak 2022 akibat konflik Timur Tengah yang mendorong harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel.
Berdasarkan data American Automobile Association (AAA), rata-rata harga bensin nasional di AS mencapai lebih dari 3,91 dolar AS per galon pada Jumat (20/03/2026). Angka tersebut melonjak sekitar 0,98 dolar AS per galon dalam sebulan terakhir, mencerminkan tekanan signifikan di tingkat konsumen, sebagaimana diberitakan Kompas, Sabtu (21/03/2026).
Kenaikan harga ini diperkirakan belum akan berhenti. Dengan tren saat ini, harga bensin berpotensi menembus 4 dolar AS per galon dalam waktu dekat. Kepala analisis perminyakan di GasBuddy, Patrick De Haan, menilai peluang tersebut sangat besar.
“Saat ini terlihat sangat mungkin,” ujarnya.
Lonjakan harga bahan bakar tidak terlepas dari kenaikan harga minyak mentah global yang meningkat lebih dari 40 persen sejak konflik Iran memanas. Selain faktor geopolitik, penggunaan campuran bahan bakar musim panas yang lebih mahal juga turut mendorong kenaikan harga di tingkat ritel.
Di sisi kebijakan, pemerintah AS mencoba merespons dengan melonggarkan Jones Act, yakni aturan yang mengatur distribusi barang antarwilayah domestik menggunakan kapal berbendera AS. Kebijakan ini memungkinkan kapal asing ikut terlibat dalam distribusi energi, meski dampaknya terhadap harga dinilai terbatas.
Kenaikan harga energi juga terjadi pada bahan bakar jenis solar. Dalam sebulan terakhir, harga solar melonjak sekitar 38 persen hingga melampaui 5 dolar AS per galon, menjadi level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap sektor logistik, mengingat sekitar 70 persen distribusi barang di AS bergantung pada transportasi darat.
Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, mengingatkan bahwa lonjakan harga energi berpotensi memperluas tekanan inflasi ke berbagai sektor ekonomi.
“Banyak sekali jalur bagaimana minyak dan turunannya masuk ke proses produksi dan distribusi berbagai barang,” ujarnya.
Sementara itu, harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), telah menembus level 95 dolar AS per barel, sedangkan minyak acuan global Brent crude melampaui 103 dolar AS per barel. Kenaikan ini dipicu eskalasi konflik setelah serangan terhadap fasilitas energi di Iran dan aksi balasan yang menyasar infrastruktur energi di kawasan.
Senior Vice President di BOK Financial, Dennis Kissler, menyebut kondisi pasar saat ini sebagai fast market yang sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
Pelaku pasar juga mencermati kondisi Selat Hormuz sebagai jalur distribusi minyak strategis dunia. Gangguan di jalur ini berpotensi memperburuk pasokan energi global apabila konflik berlangsung lebih lama.
Sejumlah analis memperkirakan harga minyak dapat terus meningkat. RBC Capital Markets memproyeksikan harga minyak bisa melampaui 128 dolar AS per barel jika konflik berlangsung dalam beberapa pekan ke depan, bahkan berpotensi mendekati rekor 2008 apabila krisis berkepanjangan.
Lonjakan harga energi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada pasar global, tetapi juga langsung dirasakan oleh konsumen melalui kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup yang semakin tinggi. []
Penulis: Nur Jamal Shaid | Penyunting: Redaksi01
