Bentuk Bani Madura Giliraja Ungkap Sejarah Leluhur di Masa Jepang
PROBOLINGGO, PRUDENSI.COM-Dalam suasana Idul Fitri 1447 H. (10 Syawal) pada tahun 2026, warga Desa Randutatah yang memiliki asal usul leluhur dari Pulau Giliraja Sumenep Madura membentuk kelompok keturunan yang diberi nama “Bani Madura Giliraja” dengan panggilan singkat “BARAJA.”
Dikemas dengan acara Halal Bihalal, musyawarah berlangsung di rumah Saifullah yang mulai akrab dikenal Ustadz Kali Bambu, Dusun Patukangan Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo.
Senin, 30 Maret 2026 M. atau 10 Syawal 1447 H. musyawarah ini dimulai pukul 18.30 WIB. Dan secara terbatas peserta yang hadir masing-masing mewakili keluarga berasal Giliraja Sumenep di Randutatah karena masih fokus pada pembahasan awal, yang diharapkan perlu dibahas secara detail oleh peserta musyawarah.
Orang-orang Desa Randutatah yang asal-usulnya memiliki nenek moyang dari Pulau Giliraja Sumenep Madura ini sepakat tiap tahun menyelenggarakan acara Halal Bihalal. Kemudian dibentuklah wadah bernama “Bani Madura Giliraja” atau “Baraja.”
Melalui kesempatan ini diketahui, ternyata pada awalnya, orang-orang Giliraja datang ke Desa Randutatah karena alasan serba kekurangan atau _laep_ sehingga mencari pekerjaan di desa ini, Randutatah. Pada masa ini mereka hidup di masa kependudukan Jepang.
“Sejarah asal-usul orang-orang Desa Randutatah yang berasal dari Pulau Giliraja Sumenep ini hidup di masa penjajahan Jepang. Harapan saya, semoga para generasinya mengenang dan belajar pada para pendahulunya,” ujar Saifullah selaku Inisiator atau penggagas berdirinya “Bani Madura Giliraja (Baraja)” seraya berharap agar para generasinya dapat mengenang sejarah leluhurnya. (sip/adl)
