Berlian Heksagonal Ditemukan, Lebih Keras dari Berlian Biasa
JAKARTA – Terobosan material superkeras kembali mencuri perhatian dunia setelah tim peneliti di China berhasil memproduksi berlian heksagonal murni (hexagonal diamond), yang diklaim memiliki kekuatan dan ketahanan lebih tinggi dibandingkan berlian konvensional, membuka peluang baru bagi industri berteknologi tinggi.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature dan menjadi tonggak penting dalam pengembangan material ekstrem untuk kebutuhan industri, seperti alat pemotong presisi, sistem manajemen panas, hingga teknologi elektronik.
Berbeda dengan berlian kubik yang umum digunakan saat ini, berlian heksagonal—yang juga dikenal sebagai Lonsdaleite—memiliki struktur atom karbon berbentuk heksagon menyerupai sarang lebah. Struktur ini diyakini memberikan tingkat kekerasan dan kekakuan yang lebih tinggi dibandingkan berlian biasa.
Penelitian ini juga menjawab perdebatan ilmiah yang telah berlangsung sejak 1967, ketika keberadaan berlian heksagonal pertama kali dideteksi dalam meteorit, namun sempat diragukan sebagai bentuk cacat dari berlian kubik.
Dalam studi terbaru, para ilmuwan berhasil menghasilkan sampel berlian heksagonal berdiameter sekitar 1,5 milimeter, ukuran yang cukup untuk memungkinkan pengujian sifat material secara akurat.
“Analisis struktural dan spektroskopis, yang didukung oleh simulasi dinamika molekuler skala besar, secara tegas mengkonfirmasi identitas HD (berlian heksagonal),” ujar Chong-Xin Shan, sebagaimana diberitakan Bisnis, Selasa, (17/03/2026).
Untuk menghasilkan material tersebut, tim peneliti memampatkan grafit dengan struktur atom teratur selama sekitar 10 jam pada tekanan sekitar 20 gigapascal—setara 200.000 kali tekanan atmosfer Bumi—dengan suhu tinggi antara 1.300 hingga 1.900 derajat Celsius.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa berlian heksagonal tidak hanya lebih keras, tetapi juga lebih tahan terhadap oksidasi, sehingga mampu bertahan pada suhu ekstrem tanpa mengalami degradasi permukaan.
“Material yang sulit ditemukan ini memiliki potensi aplikasi di banyak bidang, misalnya dalam alat pemotong, dalam material manajemen termal, dan dalam penginderaan kuantum,” sebut Chong-Xin.
Keunggulan tersebut menjadikan berlian heksagonal sebagai kandidat material masa depan yang dapat meningkatkan kinerja berbagai peralatan industri yang selama ini bergantung pada berlian kubik.
Selain itu, penelitian ini juga membuka peluang produksi dalam skala lebih besar melalui metode sintetis yang dikembangkan, sehingga berpotensi memperluas pemanfaatan material ini di berbagai sektor.
Ke depan, jika produksi massal dapat direalisasikan, berlian heksagonal diperkirakan akan mendorong inovasi teknologi sekaligus mendefinisikan ulang standar kekerasan material dalam industri global. []
Penulis: Desyinta Nuraini | Penyunting: Redaksi01
