BI-Rate Maret Diperkirakan Tetap 4,75 Persen

JAKARTA – Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate pada level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pada 17–18 Maret 2026. Proyeksi tersebut muncul di tengah dinamika nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi global yang masih dipengaruhi ketegangan geopolitik, sebagaimana dilansir Kabarbisnis, Senin, (16/03/2026).

Chief Economist BSI, Banjaran Surya Indrastomo, menilai ruang untuk mempertahankan suku bunga acuan masih terbuka karena nilai tukar rupiah diperkirakan memiliki peluang untuk menguat dalam waktu mendatang.

“Posisi kami untuk RDG pertengahan minggu ke depan masih stay melihat rupiah masih ada potensi penguatan kedepan,” tutur Banjaran.

Berdasarkan data pasar, nilai tukar rupiah tercatat melemah pada perdagangan Jumat (13/03/2026). Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot turun 0,38 persen secara harian ke level Rp16.958 per dolar Amerika Serikat. Sementara berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, rupiah tercatat melemah 0,20 persen ke posisi Rp16.934 per dolar AS.

Banjaran menjelaskan, tekanan terhadap rupiah salah satunya dipengaruhi meningkatnya indeks dolar Amerika Serikat atau US Dollar Index (DXY) akibat gejolak geopolitik global. Kondisi tersebut mendorong mata uang dolar menguat dan memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski demikian, ia menilai rupiah masih memiliki peluang menguat dalam kondisi tertentu, misalnya ketika ketegangan geopolitik mereda. Hal tersebut sempat terlihat ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump melunak terkait eskalasi konflik dengan Iran.

Menurut Banjaran, Bank Indonesia juga memiliki sejumlah instrumen untuk menjaga stabilitas nilai tukar, antara lain melalui intervensi di pasar spot, pasar Non-Deliverable Forward (NDF), pembelian surat berharga, serta instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Ia juga menilai sejumlah negara kemungkinan akan mengambil langkah untuk meredam lonjakan harga minyak dunia, termasuk melalui penyesuaian produksi maupun penggunaan cadangan energi yang tersedia.

“Tetapi, risiko terhadap tekanan masih membayangi ke depannya sehingga ruang perubahan BI rate masih perlu dibuka. Terutama di jangka menengah terkait imported inflation,” ungkapnya.

Pendapat serupa disampaikan Kepala Ekonom BCA, David Sumual. Ia memperkirakan Bank Indonesia masih akan menahan suku bunga acuan pada level saat ini mengingat tekanan eksternal yang masih mempengaruhi stabilitas nilai tukar.

“(BI-Rate) masih dipertahankan. Rupiah masih dalam tekanan karena isu eksternal terkait kenaikan harga minyak yang mendorong naiknya ekspektasi inflasi ke depan,” ungkapnya.

Dalam jangka pendek, David memproyeksikan pergerakan rupiah akan berada pada kisaran Rp16.850 hingga Rp17.050 per dolar Amerika Serikat. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *