Bitcoin Tertekan, Whale Diam-Diam Akumulasi Aset Kripto

JAKARTA – Pergerakan pasar aset digital pada 28 Maret 2026 menunjukkan tekanan tinggi di tengah meningkatnya risiko likuidasi dan aksi lindung nilai (hedging), sementara aktivitas akumulasi oleh investor besar (whale) justru mengindikasikan potensi perubahan arah harga dalam waktu mendatang.

Harga Bitcoin tercatat berada di kisaran USD 70.622,7 atau turun sekitar 0,59 persen, dengan volatilitas yang dipengaruhi tekanan di pasar derivatif. Data menunjukkan adanya aliran dana signifikan ke opsi jual (put options) sebesar USD 685 juta dalam satu bulan terakhir, disertai penurunan premi opsi beli (call options) sebesar 12 persen menjadi USD 562 juta. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap potensi koreksi lebih dalam.

Selain itu, likuidasi posisi dengan leverage tinggi mencapai sekitar USD 299 juta, memperlihatkan tingginya risiko di tengah pergerakan harga yang tidak stabil. Fenomena ini mempertegas bahwa dinamika pasar saat ini tidak sekadar fluktuasi harian, melainkan dipicu perubahan sentimen di pasar global.

Di sisi lain, Ethereum sebagai aset kripto terbesar kedua juga bergerak relatif sejalan dengan Bitcoin, berada di level USD 2.153,37. Perubahan fundamental Ethereum sejak transisi dari Proof of Work (PoW) ke Proof of Stake (PoS) turut memengaruhi dinamika pasokan dan stabilitas harga di pasar.

Di balik tekanan harga, aktivitas investor besar atau whale menunjukkan tren akumulasi pada sejumlah aset. Tercatat penambahan signifikan pada token seperti Uniswap (UNI), Bitcoin Cash (BCH), dan Chainlink (LINK), serta peningkatan aktivitas jaringan pada Solana (SOL). Pergerakan ini kerap menjadi indikator awal potensi penguatan harga di masa mendatang.

Sementara itu, perbandingan dengan aset aman (safe haven) seperti emas menunjukkan dinamika berbeda. Harga emas dunia yang sebelumnya menyentuh sekitar USD 4.600 terkoreksi ke kisaran USD 4.350. Di pasar domestik, harga emas batangan juga turun menjadi Rp2.810.000 per gram dari posisi tertinggi sebelumnya Rp3.168.000 per gram, disertai penurunan harga beli kembali (buyback).

Kondisi ini mencerminkan pengaruh kuat sentimen global, termasuk kebijakan suku bunga dan inflasi, terhadap pergerakan aset berisiko seperti kripto maupun komoditas. Investor pun dihadapkan pada pilihan diversifikasi portofolio di tengah ketidakpastian ekonomi yang masih berlangsung.

Secara keseluruhan, pasar kripto dan komoditas saat ini bergerak dalam tekanan sekaligus peluang, di mana manajemen risiko dan pemantauan data menjadi kunci utama dalam menghadapi volatilitas tinggi. []

Penulis: Arya Pratama | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *