Blokade AS Picu Lonjakan Harga Minyak, Pasokan Global Terancam

JAKARTA – Lonjakan harga minyak dunia hingga mendekati 8 persen dipicu rencana blokade maritim oleh Amerika Serikat terhadap Iran, menyusul kegagalan perundingan damai kedua negara yang meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global.

Kenaikan tersebut terjadi pada Minggu (12/04/2026) waktu setempat, dengan harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei melonjak hampir 8 persen menjadi 104,20 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman Juni naik 7 persen menjadi 101,86 dolar AS per barel.

Rencana blokade diumumkan oleh Komando Pusat Amerika Serikat (United States Central Command/CENTCOM), yang menyatakan bahwa seluruh lalu lintas maritim menuju dan dari pelabuhan Iran akan dibatasi mulai Senin pukul 10.00 waktu setempat. Kebijakan ini menjadi respons atas kebuntuan negosiasi damai yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.

“Blokade akan diberlakukan secara imparsial terhadap kapal dari semua negara yang masuk atau keluar dari pelabuhan dan daerah pesisir Iran, termasuk semua pelabuhan Iran di Teluk Arab dan Teluk Oman,” kata CENTCOM dalam sebuah pernyataan.

Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya juga menegaskan langkah serupa terhadap jalur strategis energi dunia.
“Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang Terbaik di Dunia, akan memulai proses MEMBLOKAD semua Kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz,” kata Trump dalam unggahan media sosial, sebagaimana dilansir Liputan6, Senin (13/04/2026).

Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi global yang menghubungkan produsen minyak Timur Tengah dengan pasar internasional. Sebelum konflik memanas, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut setiap harinya. Namun, ancaman militer telah menyebabkan penurunan drastis lalu lintas kapal tanker.

Data terbaru menunjukkan hanya tiga kapal tanker super yang melintas pada akhir pekan, jauh di bawah kondisi normal yang bisa mencapai lebih dari 100 kapal per hari. Setiap kapal memiliki kapasitas hingga dua juta barel minyak, sehingga penurunan ini berpotensi mengganggu rantai pasok global.

Di sisi lain, pemerintah Iran menegaskan kendali atas jalur tersebut tetap berada di tangan mereka. Penasihat senior Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menyebut bahwa akses Selat Hormuz bergantung pada persetujuan Teheran.

Sementara itu, Wakil Presiden (Wapres) AS JD Vance menyatakan kegagalan negosiasi disebabkan belum adanya komitmen Iran terkait pengembangan senjata nuklir.
“Pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir,” kata Vance. “Kita belum melihatnya, kita berharap akan melihatnya.”

Sebaliknya, Ketua Parlemen Iran Mohammad-Bagher Ghalibaf menilai pihak AS tidak mampu membangun kepercayaan dalam proses diplomasi yang berlangsung.

Ketegangan ini memicu kekhawatiran baru di pasar energi global, karena potensi gangguan distribusi minyak dapat memperburuk inflasi dan meningkatkan biaya energi di berbagai negara. []

Penulis: Agustina Melani | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *