BTN Siapkan KPR Bundling untuk Tekan Risiko Kredit Macet
BANDUNG – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menyiapkan skema baru Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berbasis bundling sebagai langkah mitigasi risiko kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) yang dipicu meningkatnya penggunaan pinjaman daring (pinjaman online/pinjol) oleh nasabah pascapembelian rumah.
Direktur Utama (Dirut) BTN Nixon Napitupulu mengungkapkan, fenomena nasabah yang menambah beban utang melalui pinjol setelah menerima kunci rumah menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko gagal bayar di sektor perumahan. “Begitu dapat kunci rumah KPR, mereka malah mencari pinjol yang bunganya mencekik untuk mengisi rumahnya,” kata Nixon dalam konferensi pers di Bandung, Kamis (09/04/2026).
Menurut BTN, kebutuhan lanjutan setelah pembelian rumah—seperti pengadaan perabot dan perlengkapan hunian—sering kali tidak diperhitungkan sejak awal oleh nasabah. Kondisi ini mendorong sebagian nasabah mencari pembiayaan tambahan di luar sistem perbankan dengan bunga tinggi, yang pada akhirnya menekan kemampuan pembayaran cicilan KPR.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), rasio NPL tercatat meningkat secara tahunan dari 2,88 persen menjadi 3,19 persen. Di sisi lain, pertumbuhan kredit juga mengalami perlambatan dari 10,24 persen menjadi 5,26 persen hingga Februari 2026. Tren tersebut memperlihatkan adanya tekanan terhadap kualitas kredit di tengah dinamika pembiayaan masyarakat, sebagaimana dilansir Money, Kamis (09/04/2026).
Merespons kondisi tersebut, BTN merancang produk KPR bundling yang mengintegrasikan pembiayaan rumah dengan kredit tambahan dalam satu perjanjian. Skema ini memungkinkan nasabah memenuhi kebutuhan pelengkap hunian—mulai dari perabot rumah tangga seperti kompor, tempat tidur, televisi, hingga kendaraan listrik—tanpa harus mencari pinjaman eksternal.
BTN menilai pendekatan ini tidak hanya membantu nasabah dalam perencanaan keuangan yang lebih terstruktur, tetapi juga menjaga kualitas portofolio kredit perseroan. Dengan pembiayaan yang terintegrasi sejak awal, risiko penambahan utang dari sumber lain diharapkan dapat ditekan.
Melalui inovasi ini, BTN berharap dapat menciptakan ekosistem pembiayaan perumahan yang lebih sehat dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kemampuan bayar nasabah dalam jangka panjang. []
Penulis: Tiara Puspitasari | Penyunting: Redaksi01
