Bursa Eropa Bangkit, Sinyal Damai Timur Tengah Redakan Kepanikan
JAKARTA – Pasar saham Eropa menunjukkan pemulihan signifikan pada penutupan perdagangan Rabu (25/03/2026) seiring meredanya kepanikan investor akibat sinyal deeskalasi konflik di Timur Tengah, meski risiko ketidakpastian ekonomi global masih membayangi.
Indeks saham gabungan kawasan Eropa, STOXX 600, tercatat menguat 1,42 persen atau 8,21 poin ke level 587,49. Penguatan ini menandai reli hari ketiga berturut-turut setelah sebelumnya indeks sempat terkoreksi hingga 10 persen dari posisi tertingginya.
Kenaikan juga terjadi di sejumlah bursa utama. Indeks FTSE 100 di Inggris naik 1,42 persen menjadi 10.106,84. Indeks DAX di Jerman menguat 1,41 persen ke level 22.957,08, sementara indeks CAC di Prancis bertambah 1,33 persen menjadi 7.846,55.
Indikator ketidakpastian pasar turut menunjukkan perbaikan. Indeks volatilitas tercatat turun 0,7 poin ke level 31,1, yang mencerminkan berkurangnya tekanan psikologis pelaku pasar dalam jangka pendek.
Seluruh sektor industri di kawasan tersebut bergerak positif. Sektor pertambangan memimpin penguatan dengan kenaikan 2,4 persen, diikuti sektor perbankan 1,8 persen, serta sektor perjalanan yang meningkat 1,4 persen. Saham maskapai penerbangan seperti Lufthansa dan Air France masing-masing naik 2,3 persen, menandakan mulai pulihnya kepercayaan terhadap sektor transportasi.
Sektor energi juga mencatatkan kenaikan sebesar 1,1 persen, didorong pandangan optimistis dari lembaga keuangan global Morgan Stanley. Di sisi lain, saham perusahaan energi terbarukan Vestas Wind melonjak 6 persen setelah memperoleh kontrak proyek baru di Amerika Serikat.
Namun, tidak semua emiten bergerak searah. Saham INWIT justru melemah 2,8 persen setelah perusahaan telekomunikasi Swisscom mengumumkan penghentian kerja sama layanan utama di Italia.
Sentimen positif di pasar turut dipengaruhi perkembangan geopolitik. Harga minyak dunia mengalami koreksi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan adanya kemajuan dalam negosiasi dengan Iran. Pemerintah Amerika Serikat disebut telah mengajukan proposal perdamaian berisi 15 poin.
Meski demikian, pemerintah Iran membantah adanya dialog langsung dan menyebut Amerika Serikat “bernegosiasi dengan dirinya sendiri”. Kendati demikian, pejabat senior Iran mengonfirmasi bahwa proposal tersebut sedang dalam tahap peninjauan.
Analis menilai, ketidakpastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama. Jalur distribusi energi global tersebut memiliki peran strategis bagi pasokan minyak ke Eropa, sehingga gangguan berkepanjangan berpotensi memengaruhi stabilitas pasar dalam jangka panjang, sebagaimana dilansir Rmol, Rabu (25/03/2026).[]
Penulis: Reni Erina | Penyunting: Redaksi01
