Bursa Global Melemah, Harga Minyak Tembus US$115

JAKARTA – Lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah memicu tekanan luas di pasar keuangan global pada Senin (30/03/2026), ditandai dengan pelemahan bursa saham dunia, penguatan dolar Amerika Serikat (United States Dollar (USD)), serta kenaikan tajam harga minyak mentah yang memperburuk kekhawatiran inflasi.

Gejolak pasar dipicu meningkatnya tensi geopolitik, termasuk keterlibatan kelompok Houthi dan penambahan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran konflik akan meluas dan berlangsung lebih lama, sehingga mendorong pelaku pasar beralih ke aset aman.

Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat tercatat turun 0,6 persen, diikuti pelemahan bursa Asia. Sementara itu, harga minyak Brent melonjak lebih dari 2 persen hingga menembus level US$115 per barel. Di sisi lain, USD menguat 0,2 persen dan melanjutkan tren penguatan selama lima hari berturut-turut.

Ketegangan meningkat setelah Israel melancarkan serangan ke Teheran pada Minggu, disusul pencegatan drone oleh Arab Saudi dan keterlibatan resmi kelompok Houthi dari Yaman. Penambahan sekitar 3.500 personel militer Amerika Serikat semakin mempertegas potensi eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Kepala Strategi Pasar di Miller Tabak + Co., Matt Maley, menilai situasi ini berpotensi memperpanjang tekanan di pasar global.

“Kita harus bersiap menghadapi pelemahan pasar yang lebih dalam,” ujarnya, sebagaimana dilansir Bloombergtechnoz, Senin (30/03/2026).

Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga menjalar ke obligasi pemerintah. Imbal hasil (yield) meningkat tajam, menempatkan obligasi pemerintah Amerika Serikat (United States Treasury (UST)) menuju kinerja bulanan terburuk sejak Oktober 2024. Kondisi ini mendorong pelaku pasar meninjau ulang ekspektasi kebijakan moneter dari Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve (The Fed)).

Di pasar kripto, Bitcoin turut tertekan dan sempat turun ke level terendah dalam lebih dari tiga pekan. Pelemahan ini mencerminkan perubahan perilaku investor yang cenderung defensif di tengah ketidakpastian global.

Analis senior di BNY Hong Kong, Wee Khoon Chong, menyebut pergeseran strategi investor semakin terlihat jelas.

“Perilaku pasar mencerminkan pergeseran jelas menuju perlindungan modal,” tulisnya dalam catatan kepada klien.

Lebih lanjut, Macquarie Group Ltd. memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak hingga US$200 per barel apabila konflik berlanjut hingga Juni dan Selat Hormuz tetap tertutup. Skenario tersebut diperkirakan memiliki peluang 40 persen, sementara kemungkinan konflik mereda dalam waktu dekat berada di kisaran 60 persen.

Tekanan simultan pada berbagai kelas aset juga terlihat dari penurunan portofolio global terdiversifikasi yang terdiri dari 60 persen saham dan 40 persen pendapatan tetap, yang tercatat turun 6,3 persen sepanjang bulan ini—kinerja terburuk sejak September 2022.

Chief Investment Officer (CIO) di Muriel Siebert & Co., Mark Malek, menilai kondisi pasar saat ini berada pada titik tekanan tinggi, namun mulai membuka peluang bagi investor berani.

“Trader paling berani jelas mulai mencari peluang beli,” katanya. “Banyak dari mereka menunggu apa yang disebut aksi jual ritel besar dan bertanya-tanya apakah Jumat lalu adalah momen tersebut. Saya sendiri akan tetap menunggu.”

Secara keseluruhan, dinamika ini menunjukkan pasar global tengah berada dalam fase ketidakpastian tinggi, di mana lonjakan harga energi dan risiko geopolitik menjadi faktor utama yang membayangi arah investasi dan stabilitas ekonomi dunia dalam waktu dekat. []

Penulis: Intan Permatasari | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *