Dapur MBG di Daerah Terhenti, Dana Masih Tertahan di BNI

SAMPANG – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Yang Ditujukan Untuk Mendukung Pemenuhan Gizi Pelajar Di Sejumlah Daerah Dilaporkan Mengalami Kendala Operasional. Beberapa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bahkan disebut mulai menghentikan kegiatan memasak akibat dana operasional yang belum diterima oleh pengelola dapur di lapangan.

Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan mitra pelaksana program. Pasalnya, dapur SPPG merupakan ujung tombak dalam menyiapkan makanan bergizi bagi ribuan pelajar setiap harinya. Tanpa dukungan dana operasional yang memadai, aktivitas dapur tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Salah satu mitra dapur MBG berinisial M yang berada di Pulau Madura mengungkapkan bahwa pihaknya telah berupaya mencari kepastian terkait penyaluran dana. Ia mengatakan kepala SPPG bahkan telah menghubungi call center Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menanyakan perkembangan pencairan dana tersebut.

Menurut informasi yang diterimanya, dana program MBG sebenarnya sudah berada di Bank Negara Indonesia. Namun hingga lebih dari satu hari sejak Jumat, dana tersebut belum masuk ke rekening Virtual Account (VA) milik SPPG.

“Informasinya dari BGN dana sudah ada di BNI, tapi sampai sekarang belum juga masuk ke VA. Padahal sudah lewat lebih dari satu hari,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Detikzone, Jumat, (13/03/2026).

Ia juga menyoroti perbedaan proses pencairan dana yang terjadi pada bank lain. Berdasarkan pengakuannya, sejumlah dapur SPPG yang menggunakan layanan Bank Rakyat Indonesia dan Bank Mandiri disebut telah menerima dana lebih cepat tanpa kendala berarti.

“Yang lewat BRI dan Mandiri sudah cair semua. Sementara melalui BNI sangat lambat. Padahal relawan dapur menunggu gaji, apalagi sekarang sudah mendekati Idul Fitri,” tambahnya.

Keluhan senada juga disampaikan oleh RD, salah satu mitra dapur SPPG di Kabupaten Sampang. Ia mengaku terpaksa menghentikan sementara operasional dapur yang dikelolanya karena dana operasional belum diterima.

Menurut RD, tanpa dana tersebut pihaknya tidak dapat melanjutkan kegiatan dapur karena berbagai kebutuhan operasional harus dipenuhi setiap hari. Mulai dari pembelian bahan makanan, pembayaran kepada pemasok bahan pangan, hingga pemberian honor kepada relawan dapur.

“SPPG saya sementara berhenti beroperasi karena dana dari BNI belum cair. Kalau dipaksakan berjalan, siapa yang akan membayar supplier dan relawan,” tegas RD.

Ia juga meminta pemerintah mengevaluasi sistem penyaluran dana program MBG agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, jika proses pencairan dana melalui bank tertentu terus mengalami kendala, maka perlu dipertimbangkan penggunaan bank lain yang lebih cepat dalam memproses transaksi.

“Kalau memang terus seperti ini, lebih baik seluruh SPPG dipindahkan saja ke BRI atau Mandiri yang pelayanannya lebih cepat,” katanya.

Hingga laporan ini disusun, pihak media masih berupaya menghubungi pimpinan Bank Negara Indonesia wilayah Jawa Timur untuk memperoleh klarifikasi terkait dugaan keterlambatan pencairan dana tersebut. Namun, hingga saat ini pihak yang bersangkutan belum dapat dihubungi.

Media juga berencana mendatangi kantor Bank Negara Indonesia di Jawa Timur untuk meminta penjelasan resmi mengenai mekanisme penyaluran dana program MBG yang saat ini menjadi sorotan sejumlah mitra dapur SPPG di berbagai daerah. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *