Dari Vlog Xinjiang ke Sel Tahanan Imigrasi

JAKARTA – Nasib Heng Guan, seorang warga negara Cina yang dikenal karena mendokumentasikan jaringan fasilitas penahanan di Xinjiang, kini berada dalam ketidakpastian. Pria berusia 38 tahun itu telah berbulan-bulan ditahan oleh otoritas Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat, sementara proses hukum terkait rencana deportasinya terus bergulir.

Sidang kedua Guan dijadwalkan berlangsung pada Senin (12/01/2026), menyusul upaya sebelumnya dari pihak berwenang yang sempat meminta agar ia dideportasi ke negara ketiga melalui skema pemindahan migran. Rencana tersebut kemudian ditarik setelah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pejabat di Washington. Meski demikian, upaya untuk mendeportasi Guan ke Cina masih terus didorong, sebuah langkah yang menurut kuasa hukumnya berisiko tinggi bagi keselamatan kliennya.

“Saya akan lompat dari pesawat jika dideportasi,” kata Guan dalam wawancara dari dalam fasilitas penahanan. “Saya lebih baik mati daripada dipenjara di Cina.”

Guan memasuki Amerika Serikat pada 2021 setelah menempuh perjalanan berbahaya dengan perahu dari Bahama. Keputusan itu diambil setelah ia membuat sebuah vlog berdurasi sekitar 20 menit yang merekam sejumlah lokasi di Xinjiang, wilayah yang ia sebut memiliki jaringan penahanan massal terhadap warga muslim Uighur. Ia meyakini bahwa aktivitas tersebut akan membuatnya menjadi target penahanan jika kembali ke Cina.

“Saya tidak kecewa dengan AS,” katanya, seraya menegaskan bahwa tinggal di Amerika merupakan satu-satunya perlindungan dari kemungkinan pembalasan. Ia menilai situasi yang dihadapinya saat ini sebagai bagian dari dinamika politik yang sedang berlangsung.

Sebelum ditangkap pada Agustus 2025, Guan bekerja sebagai pengemudi Uber dan truk di New York. Ia mengaku yakin statusnya sah karena masih menunggu proses permohonan suaka. “Saya pikir saya legal sebelum ditangkap. Setidaknya saya legal selama menunggu permohonan suaka,” ujarnya.

Ia mengatakan telah menunjukkan dokumen izin kerja dan surat izin mengemudi kepada petugas, namun tetap diborgol dan dipindahkan ke beberapa fasilitas penahanan. Sejak saat itu, ia ditahan berdasarkan surat perintah administratif yang menyatakan dirinya tidak memenuhi syarat untuk masuk ke Amerika Serikat. Permohonan pembebasan dengan jaminan yang diajukannya pun ditolak.

Kasus Guan memicu kekhawatiran luas mengenai risiko persekusi yang mungkin ia alami jika dipulangkan. Dukungan publik dan perhatian dari kalangan politik meningkat setelah kasusnya dikenal luas, meski keputusan akhir tetap berada di tangan hakim imigrasi.

Perjalanan hidup Guan tidak selalu berkaitan dengan aktivisme. Ia tumbuh di Cina bagian tengah dan pernah bekerja di pabrik serta ladang minyak. Minatnya pada fotografi dan pembuatan vlog perjalanan membawa dirinya ke Xinjiang pada 2019, sebuah perjalanan yang mengubah arah hidupnya.

“Saya tidak tahu tentang kamp-kamp Uighur saat itu, tetapi saya merasakan suasana sosial yang aneh, melihat aturan ketat dan kontrol di sana,” kata Guan.

Ia kemudian kembali ke wilayah tersebut untuk merekam sejumlah lokasi yang diduga fasilitas penahanan. Menyadari keterbatasan jurnalis asing untuk masuk ke Xinjiang, Guan merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi saksi. Untuk mempublikasikan rekaman tersebut, ia menyimpulkan bahwa meninggalkan Cina adalah satu-satunya pilihan.

Dampak dari keputusannya terasa hingga ke keluarga. Ibunya, Yun Luo, mengatakan kerabat di Cina berhenti berkomunikasi setelah dirinya dan anaknya menjadi sorotan. “Itu sangat menyedihkan. Kami biasa mengobrol di telepon setiap minggu,” katanya.

Meski menghadapi ancaman deportasi, Guan menegaskan bahwa kebebasan yang ia rasakan di Amerika adalah sesuatu yang belum pernah ia miliki sebelumnya. “Kebebasan seperti ini tidak pernah saya miliki di Cina,” ujarnya.

“Hanya saja saat ini, kita kebetulan sedang menghadapi kebijakan anti-imigrasi radikal dari presiden.” []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *