Daya Beli Melemah, Hunian Hotel Bandung Turun Drastis di Lebaran

BANDUNG – Melemahnya daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi global berdampak langsung pada kinerja industri perhotelan di Kota Bandung selama libur Lebaran 2026. Tingkat hunian kamar atau okupansi tercatat menurun dibandingkan tahun sebelumnya, meski periode liburan biasanya menjadi momentum puncak kunjungan wisata.

Data Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) Jawa Barat (Jabar) menunjukkan rata-rata okupansi hotel di Bandung hanya mencapai 47,26 persen selama periode Lebaran 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian tahun 2025 yang rata-rata masih berada di atas 60 persen.

Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jabar, Dodi Ahmad Sofiandi, membenarkan adanya tren penurunan tersebut. “Iya, terjadi penurunan. Pada tahun 2025 lalu rata-rata masih di atas 60 persen. Namun tahun ini turun,” kata Dodi ketika dihubungi, sebagaimana dilansir Kliknusae, Kamis, (26/03/2026).

Menurutnya, kondisi ini tidak lepas dari tekanan ekonomi yang membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uang, termasuk untuk perjalanan wisata. “Tidak sedikit masyarakat yang menunda perjalanan hiburan untuk menyikapi situasi ekonomi global yang juga sedang tidak baik-baik saja,” ujarnya.

Secara rinci, okupansi hotel bintang tiga hingga lima tercatat sebesar 55,98 persen, sedangkan hotel bintang dua hingga non-bintang hanya mencapai 38,55 persen. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa segmen hotel menengah ke bawah lebih terdampak oleh perubahan perilaku konsumen.

Data pembanding tahun sebelumnya memperlihatkan bahwa lonjakan okupansi sempat mencapai 94,61 persen pada 22 Maret 2025 sebelum turun menjadi 58,02 persen pada 24 Maret. Namun pada 2026, pola lonjakan serupa tidak terjadi secara signifikan.

Di sisi lain, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menilai sektor perhotelan dan restoran tetap menjadi tulang punggung Pendapatan Asli Daerah (PAD). Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menyebut kontribusi sektor ini masih dominan terhadap pendapatan daerah.

Pada 2025, realisasi PAD Kota Bandung mencapai Rp3,05 triliun. Pajak restoran menyumbang Rp434 miliar, meningkat dari Rp398 miliar pada 2024, sementara pajak hiburan naik dari Rp67 miliar menjadi Rp78 miliar.

Kondisi penurunan okupansi saat momentum Lebaran ini menjadi sinyal bagi pelaku industri dan pemerintah untuk segera merumuskan strategi pemulihan sektor pariwisata, agar stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga di tengah dinamika global yang belum pasti. []

Penulis:  Adhi | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *