Daya Beli Melemah, Industri Otomotif RI Hadapi Tantangan Berat
JAKARTA – Pelemahan daya beli masyarakat menjadi tantangan utama industri otomotif nasional pada 2026, meskipun sektor ini tetap menunjukkan kontribusi signifikan terhadap perekonomian dan penyerapan tenaga kerja.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai industri otomotif masih menjadi pilar penting manufaktur nasional. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut sektor ini mampu menyerap sekitar 99.700 tenaga kerja langsung dengan total investasi mencapai Rp194,22 triliun sepanjang 2025. “Kontribusi tersebut terbukti efektif dalam memperkuat struktur manufaktur dalam negeri,” sebagaimana diwartakan Kompas.id, Kamis, (05/02/2026).
Namun, di tengah capaian tersebut, pasar domestik justru mengalami perlambatan. Studi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan penurunan penjualan mobil baru dari sekitar 1,22 juta unit pada 2013 menjadi 866.000 unit pada 2024. Kondisi ini menandakan bahwa persoalan utama bukan pada minat, melainkan keterjangkauan harga kendaraan.
Perubahan perilaku konsumen terlihat dari dominasi pasar mobil bekas yang mencapai 67,5 persen pada 2024, jauh melampaui mobil baru yang hanya 32,5 persen. Fenomena ini menunjukkan kecenderungan masyarakat menunda pembelian kendaraan baru atau beralih ke opsi yang lebih terjangkau.
Tekanan terhadap industri tidak hanya datang dari dalam negeri. Secara global, rantai pasok menghadapi tantangan serius, terutama pada komponen semikonduktor (chip) yang menjadi bagian vital kendaraan modern. Selain itu, ketergantungan terhadap bahan baku seperti rare earth dan litium turut memperbesar risiko, seiring dominasi produksi global oleh negara tertentu dan meningkatnya permintaan untuk kendaraan listrik.
Dampak perlambatan pasar mobil baru juga mulai dirasakan pada sektor industri komponen. Efisiensi hingga pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di sejumlah perusahaan, seiring menurunnya permintaan dari pabrikan utama. Setiap penurunan penjualan kendaraan secara langsung memengaruhi rantai pasok yang melibatkan ribuan pelaku industri.
Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) menyebut satu kendaraan ditopang sekitar 25.000 komponen dan melibatkan banyak perusahaan, mulai dari pemasok bahan baku hingga industri machinery and tools. Hal ini menegaskan pentingnya penguatan rantai pasok lokal untuk menjaga ketahanan industri nasional.
Di sisi lain, transformasi teknologi menuju elektrifikasi menjadi agenda yang tidak dapat ditunda. Kemenperin mencatat peningkatan penggunaan kendaraan listrik berbasis hybrid electric vehicle (HEV) dan battery electric vehicle (BEV). Namun, pertumbuhan BEV masih didominasi impor dalam bentuk completely built up (CBU), sehingga belum sepenuhnya memperkuat basis produksi dalam negeri.
Dalam konteks transisi, HEV dinilai lebih realistis karena memanfaatkan fondasi teknologi internal combustion engine (ICE) yang sudah mapan di dalam negeri. Pendekatan ini dianggap mampu menjaga keberlangsungan industri sekaligus menurunkan emisi secara bertahap.
Meski menghadapi berbagai tekanan, industri otomotif Indonesia tetap memiliki fondasi kuat sebagai basis produksi regional. Hal ini tercermin dari capaian ekspor kendaraan ke berbagai negara serta kesinambungan investasi yang tetap berjalan di tengah krisis ekonomi sebelumnya.
Ke depan, pelaku industri dihadapkan pada kebutuhan menjaga keseimbangan antara daya beli pasar domestik, penguatan rantai pasok lokal, dan percepatan adopsi teknologi baru agar tetap kompetitif di tengah perubahan lanskap global. []
Penulis: Rina Kartika | Penyunting: Redaksi01
