Demo Meluas, Iran Protes Pernyataan Negara-Negara Eropa
TEHERAN – Ketegangan hubungan diplomatik antara Iran dan sejumlah negara Eropa kembali meningkat seiring berlanjutnya gelombang unjuk rasa antipemerintah di berbagai wilayah Iran. Pemerintah Iran pada Senin (12/01/2026) waktu setempat memanggil para diplomat yang mewakili Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris sebagai bentuk protes resmi atas sikap negara-negara tersebut yang dinilai mendukung aksi demonstrasi di dalam negeri Iran.
Langkah pemanggilan ini dilakukan di tengah situasi domestik Iran yang belum stabil akibat protes berkepanjangan. Otoritas Iran menilai pernyataan dan sikap negara-negara Eropa tersebut sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan internal negara. Dalam pertemuan tersebut, para diplomat diperlihatkan rekaman video yang diklaim menunjukkan kerusakan fasilitas umum akibat aksi massa yang disebut pemerintah sebagai ulah “para perusuh”.
Selain pemutaran video, para perwakilan diplomatik juga menerima penegasan sikap dari Teheran agar pemerintah masing-masing negara menarik pernyataan resmi yang dinilai memberikan legitimasi terhadap aksi unjuk rasa. Pemerintah Iran menilai dukungan internasional tersebut berpotensi memperkeruh situasi dan memperpanjang ketegangan di dalam negeri.
Gelombang unjuk rasa di Iran bermula sejak akhir Desember lalu. Aksi protes pertama kali muncul pada 28 Desember di kawasan Grand Bazaar Teheran, ketika para pedagang dan pemilik toko menyuarakan keresahan terhadap memburuknya kondisi ekonomi. Depresiasi tajam mata uang rial menjadi pemicu utama kemarahan publik, terutama di kalangan pelaku usaha kecil dan menengah.
Dalam waktu singkat, protes menyebar ke berbagai kota dan berubah menjadi gerakan yang lebih luas. Tuntutan tidak lagi terbatas pada persoalan ekonomi, melainkan berkembang menjadi kritik terbuka terhadap sistem pemerintahan teokratis yang telah berkuasa sejak revolusi tahun 1979. Aksi tersebut memicu respons keras dari aparat keamanan Iran.
Di tingkat internasional, reaksi terhadap situasi di Iran semakin beragam. Pemerintah Prancis mengonfirmasi bahwa para duta besar Eropa telah dipanggil oleh otoritas Iran, menandakan adanya ketegangan serius dalam hubungan diplomatik kedua belah pihak.
Sikap lebih tegas ditunjukkan oleh Parlemen Eropa. Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola mengumumkan larangan bagi seluruh diplomat dan perwakilan Iran untuk memasuki gedung Parlemen Eropa. Keputusan tersebut diambil sebagai respons atas tindakan keras aparat Iran terhadap demonstran.
“Ini tidak bisa seperti biasa. Karena rakyat Iran yang berani terus memperjuangkan hak dan kebebasan mereka, hari ini saya telah mengambil keputusan untuk melarang semua staf diplomatik dan perwakilan Republik Islam Iran lainnya dari semua gedung Parlemen Eropa,” kata Metsola dalam pernyataan via media sosial X.
“Dewan ini tidak akan membantu melegitimasi rezim ini yang telah mempertahankan diri melalui penyiksaan, penindasan, dan pembunuhan,” tambahnya.
Sementara itu, situasi di lapangan terus memburuk. Aksi demonstrasi dalam beberapa hari terakhir dilaporkan kerap berujung bentrokan dan kekerasan. Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi mengenai jumlah korban jiwa secara keseluruhan.
Namun, kelompok pemantau hak asasi manusia melaporkan angka korban yang signifikan. Sedikitnya ratusan orang dilaporkan tewas, terdiri dari demonstran dan anggota pasukan keamanan. Selain itu, ribuan orang lainnya mengalami luka-luka dan lebih dari sepuluh ribu orang ditahan selama dua pekan terakhir.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa krisis di Iran tidak hanya menjadi persoalan domestik, tetapi juga telah berkembang menjadi isu internasional yang memengaruhi hubungan diplomatik Iran dengan kawasan Eropa. Ketegangan tersebut diperkirakan masih akan berlanjut seiring belum adanya tanda-tanda deeskalasi baik di dalam negeri maupun di ranah diplomasi global. []
Siti Sholehah.
