Digitalisasi Jadi Kunci, Laba Bank Mandiri Tembus Rp8,9 Triliun
JAKARTA – Transformasi layanan digital dan efisiensi pendanaan menjadi kunci utama penguatan kinerja PT Bank Mandiri (Persero) Tbk pada awal 2026, di tengah permintaan kredit yang belum sepenuhnya pulih secara struktural. Strategi ini mendorong pertumbuhan laba dan menjaga kualitas aset tetap stabil.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini mengungkapkan, peningkatan kinerja perseroan tidak lepas dari lonjakan transaksi nasabah, terutama melalui kanal digital. “Laba bersih Bank Mandiri tumbuh 16,7 persen secara tahunan menjadi Rp8,9 triliun hingga Februari 2026, seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi digital masyarakat melalui Livin’ by Mandiri yang turut mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi,” ujar Novita, sebagaimana diberitakan Sumber Berita, Minggu, (05/04/2026).
Secara operasional, pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) tercatat sebesar Rp13,7 triliun atau tumbuh 9,16 persen (year on year/yoy). Peningkatan ini didukung oleh penyaluran kredit yang tetap ekspansif serta optimalisasi kanal layanan digital, khususnya Livin’ by Mandiri. Aktivitas transaksi yang meningkat juga memperkuat penghimpunan dana murah berbasis rekening, sehingga beban bunga dapat ditekan lebih efisien.
Efisiensi turut tercermin dari rasio Cost-to-Income Ratio (CIR) yang menurun ke level 37,21 persen. Penurunan ini menunjukkan pengelolaan biaya yang semakin disiplin sekaligus peningkatan produktivitas bisnis perseroan.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Bank Mandiri hingga Februari 2026 mencapai Rp1.513,1 triliun atau tumbuh 15,7 persen (yoy). Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp1.644,8 triliun atau meningkat 16,3 persen (yoy), mencerminkan kepercayaan nasabah yang tetap terjaga.
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Teuku Riefky menilai capaian tersebut menunjukkan peran penting bank besar dalam menjaga momentum intermediasi perbankan nasional. “Ini lebih didorong oleh ekpansi bank besar tersebut. Kinerja positif ini terjadi ketika] secara keseluruhan kami belum melihat permintaan kredit pulih secara struktural,” jelas Riefky.
Selain itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada di level 0,98 persen dengan coverage ratio sebesar 246,5 persen. Kondisi ini mencerminkan penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit serta penguatan manajemen risiko yang konsisten.
Dengan fundamental yang terjaga, Bank Mandiri optimistis mampu mempertahankan tren pertumbuhan ke depan melalui penguatan sinergi lintas lini bisnis dan inovasi layanan digital. “Ke depan, Bank Mandiri akan terus memperkuat sinergi yang terintegrasi di seluruh lini bisnis guna mendorong akselerasi pertumbuhan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat keunggulan kompetitif perseroan,” tutur Novita. []
Penulis: Husen Miftahudin | Penyunting: Redaksi01
