Distribusi Energi Nasional Bertumpu pada Kilang Balongan
JAKARTA — Ketersediaan energi yang stabil di berbagai wilayah Indonesia tidak terlepas dari sistem distribusi yang terencana dan terintegrasi dengan baik. Di balik kelancaran pasokan tersebut, Terminal Khusus (Tersus) atau Jetty Kilang Balongan memainkan peran strategis sebagai simpul penting dalam rantai logistik energi nasional. Fasilitas milik PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) VI Balongan ini menjadi titik krusial penyaluran berbagai produk hasil olahan kilang, mulai dari Bahan Bakar Minyak (BBM), Bahan Bakar Khusus (BBK), produk Non-BBM, hingga petrokimia.
Keberadaan Terminal Khusus Kilang Balongan memiliki arti penting, khususnya dalam menjaga pasokan energi untuk wilayah dengan tingkat konsumsi tinggi seperti Jakarta, Banten, serta sebagian besar kawasan Jawa Barat. Dari jetty inilah produk energi nasional dikirimkan ke berbagai daerah sesuai kebutuhan dan perencanaan distribusi yang telah ditetapkan.
Sebagai terminal dan pelabuhan khusus, Jetty Kilang Balongan melayani aktivitas pemuatan dan distribusi produk migas hasil pengolahan kilang. Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan adalah pemuatan Avtur ke kapal tanker. Proses tersebut, misalnya, berlangsung pada Kamis (29/01/2026), saat Avtur hasil produksi Kilang Balongan dimuat ke kapal Pertamina International Shipping (PIS) Cinta untuk selanjutnya dikirim ke wilayah tujuan.
Section Head Supply Chain & Distribution KPI RU VI Balongan, Ahmad Reza, menjelaskan bahwa distribusi Avtur dari Kilang Balongan tidak hanya difokuskan untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya. Produk tersebut juga disalurkan ke sejumlah kota lain seperti Pontianak, Banjarmasin, Kotabaru, serta berbagai daerah di kawasan Indonesia Timur, mengikuti perhitungan kebutuhan nasional.
“Proses distribusi dimulai dari perencanaan kebutuhan, dilanjutkan dengan pemuatan sebagian produk di Terminal Khusus Balongan. Kemudian setelah seluruh proses selesai, kapal diberangkatkan ke wilayah tujuan. Seluruh tahapan kami pastikan berjalan aman dan sesuai standar operasional,” ujar Ahmad Reza dalam keterangannya, Senin (02/02/2025).
Kilang Balongan sendiri dikenal sebagai unit pengolahan minyak mentah dengan tingkat kompleksitas tertinggi di Indonesia. Kilang ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 150 ribu barel per hari (KBPD). Produk yang dihasilkan mencakup Gasoline, Gasoil, Avtur, serta produk Non-BBM seperti Propylene dan LPG. Dengan kapasitas tersebut, Kilang Balongan menjadi tulang punggung pengolahan minyak mentah, khususnya untuk wilayah Jawa Barat.
Sebagian besar hasil produksi kilang ini diserap oleh pasar domestik. Sekitar 82 persen produk digunakan untuk memenuhi kebutuhan energi Jakarta dan Jawa Barat, sementara sisanya disalurkan ke wilayah lain di Indonesia serta untuk ekspor produk Decant Oil.
Untuk mendukung kelancaran pasokan bahan baku dan distribusi produk, Kilang Balongan juga dilengkapi fasilitas Single Point Mooring (SPM) yang berlokasi sekitar 18 kilometer dari daratan. Fasilitas ini memungkinkan kapal tanker pengangkut minyak mentah dan produk tertentu bersandar di lepas pantai, sebelum dialirkan ke kilang melalui jaringan pipa bawah laut. Terdapat tiga unit SPM dengan kapasitas berbeda, yang mampu melayani kapal tanker mulai dari 17.500 DWT hingga 165.000 DWT, bahkan SPM terbesar dapat menampung muatan hingga sekitar satu juta barel.
Dalam proses distribusi, faktor cuaca dan kondisi laut menjadi perhatian utama. Setiap pergerakan kapal dipantau secara real time melalui sistem pelacakan GPS guna memastikan ketepatan waktu dan meminimalkan risiko gangguan distribusi.
“Setiap tahapan distribusi kami lakukan dengan pengawasan dan verifikasi berlapis, agar produk energi yang dikirim dapat sampai ke daerah tujuan dengan aman, tepat waktu, dan berkualitas,” tutup Ahmad Reza.
Sementara itu, Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa Kilang Unit Balongan merupakan salah satu aset hilir strategis Pertamina. Lokasinya di Kabupaten Indramayu dinilai sangat mendukung integrasi operasional karena berdekatan dengan fasilitas Pertamina lainnya, mulai dari lapangan migas hingga terminal distribusi.
“Pertamina sebagai perusahaan energi terintegrasi memiliki fasilitas-fasilitas yang saling terkait yakni sektor hilir sebagai produsen migas dan sektor hilir sebagai pengolahan dan distribusi. Hal ini merupakan upaya optimalisasi infrastruktur Pertamina, sebagai wujud komitmen kami dalam melayani masyarakat Indonesia,” jelas Baron.
Sejalan dengan transformasi perusahaan, Pertamina juga terus mendorong penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam setiap lini bisnisnya. Komitmen ini mendukung target Net Zero Emission 2060 serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), sebagai bagian dari upaya keberlanjutan jangka panjang perusahaan energi nasional. []
Siti Sholehah.
