Ditabrak Tiga Kendaraan, Muazin 72 Tahun Meninggal di Samarinda
SAMARINDA – Duka menyelimuti warga Jalan Cipto Mangunkusumo, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, setelah seorang muazin Masjid Al-Islah meninggal dunia akibat insiden tabrak lari beruntun pada Sabtu (21/02/2026) dini hari. Korban diketahui bernama Warsito (72), sosok yang selama ini dikenal rutin mengumandangkan azan subuh di lingkungan tempat tinggalnya.
Peristiwa tragis itu terjadi sekitar pukul 04.42 Wita, saat Warsito berjalan kaki menyeberangi jalan menuju masjid untuk menunaikan tugasnya. Hujan yang mengguyur kawasan tersebut diduga turut memengaruhi jarak pandang pengendara. Saat berada di badan jalan, korban ditabrak sepeda motor yang melaju dari arah yang sama.
Alih-alih berhenti memberikan pertolongan, pengendara motor tersebut justru meninggalkan lokasi kejadian. Korban yang terjatuh di aspal dalam kondisi tidak berdaya kemudian kembali menjadi korban dalam rentang waktu singkat.
Berdasarkan rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi, beberapa detik setelah tabrakan pertama, sebuah mobil pikap melaju dan melindas tubuh korban hingga terseret ke bagian tengah jalan. Pengemudi kendaraan tersebut juga tidak berhenti dan langsung melarikan diri. Situasi semakin memilukan ketika seorang pengendara motor lain yang melintas kembali menabrak korban yang masih tergeletak.
Kondisi jalan yang relatif sepi pada waktu tersebut membuat insiden itu tidak segera diketahui warga sekitar. Meski dua pengendara motor sempat terjatuh, tidak ada laporan pertolongan langsung kepada warga setempat pada saat kejadian.
Kasus ini baru terungkap setelah seorang relawan dari Rescue Sengkotek (Resse), Sugiarto, menerima informasi dari sopir bus perusahaan yang kebetulan melintas dan melihat tubuh tergeletak di jalan. Sugiarto yang baru saja menyelesaikan santap sahur langsung menuju lokasi menggunakan ambulans.
Saat tiba di tempat kejadian perkara, Sugiarto mengaku sempat hampir menabrak korban karena tubuhnya tertutup sarung dan minim penerangan jalan. Menyadari situasi darurat, ia membunyikan sirene ambulans untuk menarik perhatian warga sekitar.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Sejumlah warga yang mendengar suara sirene keluar dari rumah dan bersama-sama membantu proses evakuasi. Korban kemudian dilarikan ke RSUD IA Moeis Samarinda. Namun, nyawa Warsito tidak tertolong akibat luka berat yang dideritanya.
Peristiwa ini kini dalam penanganan Unit Penegakan Hukum (Gakkum) Satlantas Polresta Samarinda. Aparat kepolisian melakukan penyelidikan intensif untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat dalam kecelakaan beruntun tersebut.
Penabrak pertama dilaporkan telah menyerahkan diri beberapa jam setelah kejadian. Ia diketahui berprofesi sebagai penjual ikan keliling asal Kabupaten Kutai Kartanegara. Kepada penyidik, yang bersangkutan mengaku panik saat insiden terjadi dan memilih meninggalkan lokasi.
Sementara itu, identitas pengemudi mobil pikap dan satu pengendara motor lainnya masih dalam proses penelusuran. Polisi mengandalkan rekaman CCTV di sekitar lokasi serta keterangan saksi untuk mengungkap peran masing-masing dalam kejadian tersebut.
Kematian Warsito meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan jamaah Masjid Al-Islah. Sosoknya dikenal sebagai pribadi sederhana dan istiqamah menjalankan tugas sebagai muazin. Di bulan Ramadan yang identik dengan suasana ibadah, kepergian Warsito menjadi pengingat pentingnya tanggung jawab dan kepedulian di jalan raya. []
Siti Sholehah.
