Dividen Jumbo Bank Mega Dorong Saham MEGA Naik Hampir 5 Persen

JAKARTA – PT Bank Mega Tbk (MEGA) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp2,01 triliun dari laba tahun buku 2025, dengan nilai Rp171,947293 per saham, sebagai bagian dari strategi menjaga daya tarik saham di tengah respons positif pasar modal.

Keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 31 Maret 2026. Perseroan menyampaikan bahwa pembagian dividen ini sejalan dengan kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025.

“Perseroan menyampaikan rencana pembagian Dividen Tunai untuk periode tahun buku 2025 sesuai dengan hasil RUPS Tahunan tanggal 31 Maret 2026,” kata perseroan dalam keterbukaan informasi, dikutip Senin, 6 April 2026, sebagaimana dilansir Kabarbursa, Senin (06/04/2026).

Adapun jadwal cum dividend di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 9 April 2026, sementara ex dividend pada 10 April 2026. Tanggal pencatatan pemegang saham atau recording date jatuh pada 13 April 2026, dengan pembayaran dividen dijadwalkan pada 30 April 2026.

Pengumuman dividen tersebut turut mendorong penguatan saham MEGA di pasar. Pada perdagangan 6 April 2026, saham ini ditutup naik 210 poin atau 4,94 persen ke level 4.460. Sepanjang sesi, harga bergerak di kisaran 4.290 hingga 4.500 dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp998,51 miliar.

Kinerja positif ini didukung oleh capaian laba bersih perseroan yang mencapai Rp3,36 triliun pada 2025, tumbuh 28 persen dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan laba terutama ditopang oleh kenaikan pendapatan berbasis komisi atau fee based income yang melonjak 54 persen menjadi Rp2,79 triliun.

“Sepanjang tahun 2025, laba bersih Bank Mega pada tahun 2025 tumbuh sebesar 28 persen menjadi Rp3,36 triliun,” kata Corporate Secretary PT Bank Mega Tbk Christiana M. Damanik dalam keterangan tertulis.

Dari sisi fundamental, perseroan juga mencatat pertumbuhan aset menjadi Rp140,83 triliun atau naik 4 persen secara tahunan. Penyaluran kredit meningkat menjadi Rp67,23 triliun dengan fokus pada segmen korporasi, sementara kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio non-performing loan (NPL) di level 1,65 persen.

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga menunjukkan peningkatan sebesar 14 persen menjadi Rp104,13 triliun. Komposisi dana masih didominasi deposito, namun dana murah atau current account saving account (CASA) turut meningkat menjadi Rp28,14 triliun.

Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) tercatat kuat di level 30,49 persen. Rasio penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) berada di kisaran 70 persen. Sementara itu, tingkat profitabilitas tercermin dari return on assets (ROA) sebesar 3,10 persen dan return on equity (ROE) sebesar 15,54 persen, dengan net interest margin (NIM) di level 4,18 persen serta rasio efisiensi BOPO sebesar 69,12 persen.

Dengan kombinasi kinerja keuangan yang solid dan kebijakan dividen yang menarik, perseroan berupaya menjaga kepercayaan investor sekaligus memperkuat posisi di industri perbankan nasional ke depan. []

Penulis: Citra Dara Vresti Trisna | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *