Dolar AS Dominan, Rupiah Diprediksi di Level Rp17.000

JAKARTA – Kinerja mayoritas mata uang Asia yang melemah pada pembukaan perdagangan Selasa, 24 Maret 2026, mempertegas dominasi dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global dan berpotensi menekan nilai tukar rupiah saat kembali diperdagangkan usai libur panjang Idulfitri 1447 Hijriah.

Mengacu data Bloomberg, indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY) tercatat menguat 0,42 persen ke level 99,36. Pada saat yang sama, sejumlah mata uang Asia seperti yen Jepang, won Korea Selatan, rupee India, dan ringgit Malaysia kompak mengalami depresiasi terhadap dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan menghadapi tekanan saat perdagangan kembali dibuka.

“Dalam perdagangan pekan ini, indeks dolar kemungkinan kembali menguat menuju level 101,20. Kecil kemungkinan terjadi pelemahan ke area support 98,73,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, sebagaimana diberitakan Bisnis, Selasa (24/03/2026).

Ia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp16.990 hingga Rp17.075 per dolar AS pada perdagangan pascalibur. Tekanan tersebut dinilai sejalan dengan potensi penguatan dolar AS yang masih berlanjut.

Menurutnya, penguatan dolar dipicu oleh kebijakan bank sentral global yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi atau hawkish untuk mengendalikan inflasi. Kondisi ini membuat aliran modal global lebih banyak mengarah ke aset berdenominasi dolar.

Selain itu, lonjakan harga energi turut memperburuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Minyak mentah jenis Brent bahkan diperkirakan bergerak di kisaran 110 hingga 116 dolar AS per barel, seiring ketidakpastian pasokan global.

Faktor lain yang memperkuat dolar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel. Situasi tersebut mendorong investor mengalihkan dana ke aset safe haven, termasuk dolar AS.

Dengan kombinasi sentimen eksternal tersebut, pergerakan rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan sepanjang pekan ini. Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati seiring pembukaan kembali aktivitas perdagangan setelah jeda libur panjang, sambil mencermati arah kebijakan global dan perkembangan geopolitik. []

Penulis: Dionisio Damara Tonce | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *