Dolar AS Melemah Tipis, Rupiah Bertahan di Level Rp 16.700-an

JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan menunjukkan sinyal stabilisasi. Pada perdagangan Senin pagi (02/02/2026), dolar AS terpantau melemah tipis dan masih bergerak di kisaran Rp 16.700-an. Kondisi ini mencerminkan sikap pasar yang cenderung berhati-hati di tengah dinamika global dan pergerakan beragam mata uang utama dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS berada di level Rp 16.777 atau turun 9 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Penurunan tersebut setara dengan pelemahan sebesar 0,05 persen. Meski relatif kecil, koreksi ini menandai adanya ruang penguatan bagi rupiah setelah beberapa waktu bergerak dalam tren fluktuatif.

Pelemahan dolar AS terhadap rupiah terjadi di tengah pergerakan yang bervariasi terhadap mata uang global lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa dinamika pasar valuta asing saat ini tidak bergerak dalam satu arah, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor ekonomi, kebijakan moneter, serta sentimen investor di berbagai kawasan.

Di kawasan Asia-Pasifik, dolar AS justru tercatat menguat terhadap sejumlah mata uang. Mata uang Paman Sam naik 0,17 persen terhadap yen Jepang, menguat 0,04 persen terhadap dolar Singapura, serta bertambah 0,01 persen terhadap dolar Australia. Penguatan ini mengindikasikan bahwa dolar AS masih mendapatkan dukungan dari sentimen tertentu di pasar regional, meskipun tidak merata di seluruh negara.

Sebaliknya, dolar AS mengalami tekanan terhadap beberapa mata uang utama lainnya. Dolar AS melemah 0,19 persen terhadap yuan China, turun 0,17 persen terhadap euro, dan terkoreksi 0,05 persen terhadap pound sterling. Pelemahan ini mencerminkan respons pasar terhadap perkembangan ekonomi di Eropa dan China, serta ekspektasi investor terhadap kebijakan bank sentral masing-masing negara.

Kondisi tersebut turut memengaruhi persepsi pasar terhadap rupiah. Meskipun dolar AS masih berada di level yang relatif tinggi, pelemahan tipis pada pagi hari memberikan sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang domestik tidak sepenuhnya satu arah. Pelaku pasar menilai pergerakan rupiah masih berada dalam rentang wajar, seiring dengan upaya stabilisasi yang dilakukan otoritas moneter dan fundamental ekonomi domestik yang relatif terjaga.

Analis pasar valuta asing menilai bahwa pergerakan rupiah ke depan masih akan dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama arah kebijakan suku bunga bank sentral AS serta perkembangan ekonomi global. Di sisi lain, faktor domestik seperti inflasi, neraca perdagangan, dan arus modal asing juga menjadi penentu utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Dengan posisi dolar AS yang masih bertahan di kisaran Rp 16.700-an, pasar menunggu sentimen lanjutan yang dapat mendorong pergerakan lebih signifikan. Fluktuasi yang terjadi saat ini mencerminkan fase konsolidasi, di mana pelaku pasar cenderung menahan diri sambil mencermati arah kebijakan ekonomi global.

Ke depan, stabilitas nilai tukar rupiah diharapkan tetap terjaga melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, serta penguatan fundamental ekonomi nasional. Dengan demikian, pergerakan rupiah di pasar valuta asing dapat tetap terkendali meskipun tekanan global masih berpotensi muncul. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *