Dugaan Mata-mata Iran Seret Warga Negara Rusia di Israel
TEL AVIV – Otoritas keamanan Israel kembali mengungkap dugaan aktivitas spionase yang mempertegas intensitas konflik tersembunyi antara Tel Aviv dan Teheran. Seorang warga negara Rusia didakwa di Israel atas tuduhan bekerja sebagai mata-mata Iran, dengan tugas mengumpulkan informasi strategis terkait pelabuhan dan infrastruktur penting negara tersebut. Aktivitas itu diduga dilakukan atas arahan langsung intelijen Iran dan imbalannya dibayarkan menggunakan mata uang digital.
Dalam pernyataan bersama yang disampaikan kepolisian Israel dan badan keamanan internal negara itu, disebutkan bahwa terdakwa menjalankan pengintaian dengan memotret sejumlah fasilitas vital. Informasi tersebut dinilai sensitif karena berkaitan langsung dengan keamanan nasional Israel. Kasus ini mencerminkan pola baru dalam praktik spionase modern, di mana transaksi keuangan dilakukan melalui aset kripto guna menghindari pelacakan.
Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran, yang selama puluhan tahun terlibat dalam apa yang kerap disebut sebagai “perang bayangan”. Konflik tersebut mencakup operasi intelijen, serangan siber, hingga aksi sabotase lintas wilayah. Ketegangan itu mencapai eskalasi baru ketika kedua negara terlibat konfrontasi langsung pada Juni lalu, mengakhiri fase konflik tidak terbuka yang selama ini berlangsung.
Israel sendiri diketahui melancarkan serangkaian serangan ke target-target strategis di dalam wilayah Iran. Operasi tersebut tidak hanya mengandalkan kekuatan militer konvensional, tetapi juga jaringan intelijen Mossad yang beroperasi jauh di luar perbatasan negara. Strategi ini menandai pendekatan agresif Tel Aviv dalam menghadapi apa yang mereka anggap sebagai ancaman eksistensial dari Teheran.
Di sisi lain, otoritas Israel juga mengungkap telah menangkap puluhan warga negaranya sendiri yang diduga direkrut Iran untuk melakukan kegiatan spionase. Menurut sumber Reuters, ini merupakan salah satu upaya terbesar yang pernah dilakukan Iran dalam beberapa dekade terakhir untuk menembus sistem keamanan Israel. Para agen intelijen Iran disebut secara aktif membujuk warga sipil Israel untuk mengumpulkan data rahasia atau bahkan melakukan serangan, dengan imbalan finansial.
Ketika gelombang penangkapan tersebut terjadi tahun lalu, misi diplomatik Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tidak secara tegas mengakui maupun menyangkal keterlibatan negaranya. Namun, dalam pernyataan resmi pada 2024, misi Iran untuk PBB menyampaikan bahwa “dari sudut pandang logis”, setiap upaya semacam itu oleh dinas intelijen Iran akan berfokus pada individu non-Iran dan non-Muslim untuk mengurangi kecurigaan. Pernyataan itu menimbulkan beragam tafsir di kalangan pengamat internasional.
Sementara itu, Iran juga mengambil langkah keras di dalam negeri dengan mengeksekusi mati sejumlah individu yang dituduh memiliki hubungan dengan Mossad dan membantu operasi intelijen Israel. Langkah tersebut menunjukkan bahwa konflik intelijen antara kedua negara tidak hanya berlangsung di wilayah asing, tetapi juga berdampak langsung pada kebijakan keamanan domestik masing-masing pihak.
Kasus pendakwaan warga negara Rusia ini menegaskan bahwa rivalitas Israel-Iran telah melibatkan aktor lintas negara, memperluas medan konflik ke ranah internasional. Perang intelijen yang kian terbuka ini dinilai berpotensi meningkatkan ketidakstabilan kawasan, sekaligus menantang upaya diplomasi global dalam meredam eskalasi konflik Timur Tengah. []
Siti Sholehah.
