Emas Melesat 9,4%, Sentimen Geopolitik Jadi Pendorong
JAKARTA – Harga emas global mencatat reli signifikan dengan kenaikan selama empat hari berturut-turut hingga Rabu, 1 April 2026, didorong kombinasi sentimen geopolitik dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global.
Pada penutupan perdagangan, harga emas di pasar spot tercatat mencapai US$4.791,1 per troy ons, melonjak 2,49% dibandingkan hari sebelumnya. Secara kumulatif, logam mulia ini telah menguat sekitar 9,4% dalam empat hari terakhir, sebagaimana dilansir Bloomberg Technoz, Rabu, (01/04/2026).
Penguatan harga emas dipicu oleh dinamika konflik di Timur Tengah, khususnya sinyal meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengindikasikan bahwa konflik tersebut berpotensi berakhir dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan sikap terbuka terhadap perdamaian melalui pernyataan publiknya. Ia menegaskan bahwa Iran tidak memiliki niat agresif terhadap negara lain dan lebih mengedepankan jalur negosiasi.
Meredanya tensi geopolitik turut berdampak pada pasar energi global, di mana harga minyak mentah Brent mengalami penurunan sekitar 2,7% ke level US$101,16 per barel. Penurunan harga energi ini berpotensi menekan inflasi global.
Kondisi tersebut dinilai meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai (safe haven), terutama ketika suku bunga berpotensi turun. Dalam situasi suku bunga rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih kompetitif dibandingkan instrumen investasi lainnya.
Dari sisi teknikal, pergerakan emas menunjukkan kecenderungan bullish pada kerangka waktu harian (daily time frame). Indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 51, yang menandakan kecenderungan penguatan meski masih dalam zona netral.
Namun demikian, indikator Stochastic RSI menunjukkan angka 100, yang mengindikasikan kondisi jenuh beli (overbought). Situasi ini membuka peluang koreksi harga dalam jangka pendek.
Pelaku pasar disarankan mencermati level pivot di US$4.626 per troy ons. Jika terjadi penurunan, harga berpotensi menguji level support di US$4.587, US$4.520, hingga US$4.335 per troy ons.
Sebaliknya, apabila tren penguatan berlanjut, level resistance terdekat berada di US$4.805 per troy ons. Penembusan level ini dapat mendorong harga menuju kisaran US$4.843 hingga US$4.860, dengan potensi tertinggi di level US$5.022 per troy ons.
Dengan kombinasi faktor fundamental dan teknikal tersebut, pergerakan harga emas dalam waktu dekat diperkirakan masih akan dipengaruhi tarik-menarik antara optimisme geopolitik dan potensi koreksi akibat kondisi jenuh beli di pasar. []
Penulis: Intan Permatasari | Penyunting: Redaksi01
