Emas Tak Lagi Jadi Pelarian Aman? Ini Penyebabnya
JAKARTA – Harga emas dunia bergerak terbatas di tengah meningkatnya tekanan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan moneter global, menyusul konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang memicu perubahan perilaku investor terhadap aset aman.
Data Bloomberg pada Kamis (26/03/2026) menunjukkan harga emas di pasar spot naik 0,4% ke level US$4.522,60 per troy ounce. Sementara itu, harga emas berjangka di Commodity Exchange (Comex) justru turun 0,96% menjadi US$4.541,70 per troy ounce. Pada awal perdagangan, logam mulia ini sempat diperdagangkan di kisaran US$4.520 per troy ounce setelah sebelumnya menguat lebih dari 2% dalam dua sesi.
Pergerakan harga emas yang cenderung stagnan ini terjadi di tengah dinamika negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Pemerintah AS melalui Gedung Putih menyatakan bahwa pembicaraan damai masih berlangsung dengan proposal berisi 15 poin. Namun, Iran menolak pendekatan tersebut dan mengajukan syarat alternatif, sehingga memperpanjang ketidakpastian penyelesaian konflik.
Ketegangan semakin meningkat setelah AS mengerahkan ribuan pasukan tambahan ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan eskalasi konflik menjadi invasi darat berskala besar.
Alih-alih menguat, harga emas justru tercatat turun hampir 15% sejak konflik dimulai sekitar sebulan lalu. Pergerakan ini menunjukkan korelasi dengan pasar saham serta hubungan terbalik dengan harga energi, yang saat ini cenderung meningkat.
Kenaikan harga energi memperbesar risiko inflasi global dan mendorong ekspektasi bahwa bank sentral, termasuk Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan bahkan menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Meski demikian, potensi kenaikan suku bunga diperkirakan terbatas akibat risiko perlambatan ekonomi AS yang dipicu konflik berkepanjangan. Sejumlah lembaga keuangan di Wall Street bahkan telah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS, sembari menaikkan perkiraan inflasi dan tingkat pengangguran.
Analis Standard Chartered, Sudakshina Unnikrishnan, menyatakan, “posisi pasar emas yang sudah terlalu jenuh berpotensi tetap rentan dalam jangka pendek,” sebagaimana dilansir Bloomberg, Kamis (26/03/2026).
Data juga menunjukkan sekitar 85 ton kepemilikan emas pada exchange-traded fund (ETF) telah ditebus sejak konflik berlangsung. Pada kisaran harga US$4.500 per troy ounce, sekitar 83 ton kepemilikan lainnya masih berada dalam posisi merugi dan berpotensi dilikuidasi, dengan nilai sekitar US$12 miliar berdasarkan harga penutupan Rabu (25/03/2026).[]
Penulis: Arya Pratama | Penyunting: Redaksi01
