Euro Melemah Setelah Sempat Menguat, Dolar AS Kembali Perkasa
JAKARTA – Nilai tukar euro terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Jumat (20/03/2026) setelah sebelumnya sempat menguat lebih dari satu persen, seiring kembalinya penguatan dolar AS di pasar global.
Pergerakan pasangan mata uang euro terhadap dolar AS atau pair EURUSD turun dari level tertinggi dalam lebih dari sepekan pada sesi Eropa, dipengaruhi kombinasi sentimen kebijakan moneter dan dinamika geopolitik global.
Sebelumnya, euro sempat menguat signifikan setelah Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) memberikan sinyal kebijakan yang lebih agresif dalam menghadapi inflasi, terutama akibat kenaikan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Pada Kamis, ECB memutuskan mempertahankan suku bunga, namun menaikkan proyeksi inflasi sekaligus menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi ke depan. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian global yang turut memengaruhi arah kebijakan moneter kawasan Eropa.
Ekspektasi pasar pun berubah, dengan pelaku pasar mulai memperkirakan kenaikan suku bunga ECB dapat terjadi lebih cepat, bahkan sejak April. Selain itu, probabilitas kenaikan pada Mei diperkirakan mencapai sekitar 60 persen, sementara kenaikan pada Juni hampir sepenuhnya diantisipasi.
Pembuat kebijakan ECB Joachim Nagel menekankan potensi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat apabila tekanan harga terus meningkat, sedangkan Francois Villeroy de Galhau kembali menegaskan komitmen bank sentral untuk bertindak tegas dalam menjaga stabilitas harga.
Di sisi lain, penguatan dolar AS menekan pergerakan euro sehingga mengoreksi kenaikan sebelumnya. Secara teknikal, analis menilai pasangan EURUSD masih berpotensi bergerak fluktuatif di kisaran level dukungan (support) dan hambatan (resistance).
Menurut analisis Vibiz Research Center, posisi EURUSD berada di level 1,1548 dan cenderung melemah menuju 1,1538. Jika tekanan berlanjut dan menembus level tersebut, nilai tukar berpotensi turun lebih dalam ke area support kuat.
Sebaliknya, jika tidak menembus batas bawah di kisaran 1,1490, pasangan mata uang ini berpeluang berbalik arah menguat menuju 1,1594 dan melanjutkan kenaikan ke area resistance berikutnya.
Pergerakan ini menunjukkan pasar valuta asing masih dipengaruhi ketidakpastian global, termasuk kebijakan moneter dan dinamika geopolitik, yang berpotensi memicu volatilitas lanjutan dalam waktu dekat. []
Penulis: Jul Allens | Penyunting: Redaksi01
