Gedung SDI Ra’ong di Manggarai Barat Ambruk Diterjang Angin

MANGGARAI BARAT – Sebuah bangunan sekolah di wilayah Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, dilaporkan ambruk setelah diterjang angin kencang yang disertai hujan lebat. Bangunan yang roboh tersebut merupakan gedung milik SDI Ra’ong yang berada di Kampung Ra’ong.

Peristiwa robohnya bangunan sekolah tersebut terjadi ketika wilayah tersebut dilanda cuaca buruk. Hembusan angin kuat yang datang bersamaan dengan hujan deras menyebabkan struktur bangunan tidak mampu bertahan hingga akhirnya roboh dan rata dengan tanah.

“Diterjang angin kencang disertai dengan hujan lebat, ambruk rata tanah,” kata salah satu guru SDI Ra’ong, Sukarmin, dilansir detikbali, Selasa (10/03/2026).

Bangunan sekolah yang ambruk itu diketahui merupakan gedung semipermanen. Pembangunan fasilitas tersebut sebelumnya dilakukan secara swadaya oleh para orang tua murid yang ingin membantu menyediakan sarana tambahan bagi kegiatan belajar dan aktivitas siswa di sekolah.

Sekolah dasar tersebut memiliki sekitar 60 siswa yang berasal dari wilayah sekitar Kampung Ra’ong. Lokasi sekolah juga tidak terlalu jauh dari kawasan wisata Labuan Bajo yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Nusa Tenggara Timur.

Menurut pihak sekolah, gedung yang roboh tersebut memiliki fungsi penting bagi aktivitas pendidikan dan kegiatan siswa. Bangunan tersebut menjadi salah satu fasilitas tambahan yang dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan di lingkungan sekolah.

“Gedung yang roboh tadi sangat dibutuhkan oleh sekolah dan anak-anak sebagai tempat belajar,” ujar Sukarmin.

Dalam beberapa bulan terakhir sebelum kejadian, bangunan tersebut diketahui dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan serta sebagai ruang baca bagi para siswa. Fasilitas tersebut menjadi tempat bagi anak-anak untuk membaca buku dan mengikuti kegiatan pendidikan tambahan.

Sementara itu, untuk kegiatan belajar mengajar utama, pihak sekolah selama ini menggunakan ruangan lain yang tersedia di area sekolah. Beberapa ruang yang digunakan untuk proses pembelajaran antara lain kantor sekolah dan perpustakaan.

“Kegiatan belajar mengajar siswa dilakukan di ruang kantor dan perpustakaan sekolah,” terang Sukarmin.

Ambruknya bangunan tersebut tentu menjadi kerugian bagi pihak sekolah maupun para siswa. Selain kehilangan fasilitas yang selama ini dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan, kondisi tersebut juga membuat ruang aktivitas siswa menjadi semakin terbatas.

Pihak sekolah berharap adanya perhatian dari pemerintah maupun pihak terkait untuk membantu pembangunan kembali fasilitas yang rusak akibat bencana tersebut. Sarana pendidikan dinilai sangat penting untuk menunjang proses belajar mengajar serta meningkatkan kualitas pendidikan bagi anak-anak di daerah tersebut.

Dengan jumlah siswa yang mencapai puluhan orang, keberadaan ruang belajar tambahan menjadi kebutuhan yang cukup mendesak agar aktivitas pendidikan dapat berjalan dengan lebih optimal.

Selain itu, peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya pembangunan fasilitas pendidikan yang memiliki struktur kuat dan mampu bertahan menghadapi kondisi cuaca ekstrem, terutama di wilayah yang rawan angin kencang dan hujan lebat.[]

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *