Geopolitik Memanas, Rupiah Diprediksi Melemah ke Rp17.200 per Dolar AS
JAKARTA – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih berlanjut pada perdagangan Rabu (08/04/2026), seiring meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap dinamika geopolitik global dan kenaikan harga energi.
Berdasarkan proyeksi Doo Financial Futures, rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp17.050 hingga Rp17.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (07/04/2026), rupiah ditutup melemah 70 poin atau 0,41 persen ke level Rp17.105 per dolar AS.
Kondisi ini terjadi di tengah pergerakan beragam mata uang Asia. Sejumlah mata uang seperti dolar Singapura, won Korea Selatan, rupee India, baht Thailand, hingga yuan China tercatat menguat terhadap dolar AS. Sementara itu, peso Filipina dan ringgit Malaysia mengalami pelemahan.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai ketidakpastian global menjadi faktor utama yang menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Pasar saat ini terpecah. Ada yang optimistis konflik mereda, tetapi ada juga yang bersiap menghadapi skenario terburuk,” ujarnya, sebagaimana dilansir Bisnis, Rabu (08/04/2026).
Menurutnya, sentimen eksternal masih bercampur, antara harapan meredanya konflik dan kekhawatiran eskalasi yang lebih luas. Kondisi tersebut mendorong investor untuk lebih berhati-hati dalam menempatkan dana.
Selain faktor geopolitik, lonjakan harga minyak mentah dunia turut memberi tekanan tambahan bagi rupiah. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama karena harga bahan bakar minyak (fuel oil) domestik belum mengalami penyesuaian.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal, bahkan berpotensi melampaui batas 3 persen dari produk domestik bruto (PDB), meskipun pemerintah melakukan efisiensi pada sejumlah pos belanja.
Di sisi lain, pasar juga menaruh perhatian pada data cadangan devisa (foreign exchange reserves) Indonesia yang akan dirilis dalam waktu dekat. Data tersebut menjadi indikator penting setelah tercatat mengalami tren penurunan dalam tiga bulan terakhir.
Dalam jangka pendek, arah pergerakan rupiah diperkirakan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi global, khususnya terkait potensi konflik di Timur Tengah, serta respons kebijakan ekonomi domestik dalam menjaga stabilitas nilai tukar. []
Penulis: Anitana Widya Puspa | Penyunting: Redaksi01
