Geopolitik Panas, Harga Minyak Justru Melemah

JAKARTA – Harga minyak dunia mengalami tekanan penurunan pada awal pekan seiring ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait perkembangan komunikasi tidak langsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang belum mencapai titik terang.

Pada perdagangan Senin, 6 April 2026, harga minyak mentah Brent tercatat turun 0,22 persen menjadi USD108,79 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 0,08 persen ke posisi USD111,45 per barel. Pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati investor yang menunggu kepastian arah konflik dan jalur distribusi energi global.

Situasi memanas setelah Iran belum membuka kembali Selat Hormuz meskipun terdapat kerangka rencana untuk mengakhiri permusuhan. Padahal, Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengancam akan mengambil langkah keras jika akses jalur tersebut tidak dibuka hingga batas waktu yang ditentukan.

Di sisi lain, Iran disebut telah menyusun posisi dan tuntutannya sebagai respons atas usulan gencatan senjata yang disampaikan melalui pihak perantara. Kondisi ini membuat pasar energi global bergerak dinamis karena ketidakpastian pasokan masih membayangi.

Mitra Again Capital, John Kilduff, menilai situasi saat ini dipenuhi berbagai skenario yang belum pasti. “Retorika dari Iran tampaknya menolak usulan gencatan senjata, tetapi mereka mengizinkan lebih banyak kapal melewati Selat Hormuz,” ujarnya sebagaimana dilansir Reuters, Senin, (06/04/2026).

Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dari negara-negara seperti Irak, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab masih mengalami pembatasan sejak konflik pecah pada 28 Februari 2026. Meski demikian, sejumlah kapal tanker dari Oman, kapal kontainer Prancis, serta kapal pengangkut gas Jepang dilaporkan telah berhasil melintas dalam beberapa hari terakhir.

Analis SEB Research, Ole Hvalbye, menyebut pasar saat ini tengah berupaya membaca arah perkembangan situasi. “Pasar sedang mencoba memahami apa yang dapat diharapkan ke depan. Berita utama terpenting akhir pekan ini adalah beberapa kapal telah melewati selat tersebut,” katanya.

Ia juga menambahkan bahwa Eropa mulai kehilangan pasokan minyak fisik ke Asia akibat kondisi pasar yang semakin ketat. Dampaknya, kilang di berbagai kawasan mencari sumber alternatif, termasuk dari Amerika Serikat dan Laut Utara Inggris.

Persaingan mendapatkan pasokan minyak mentah turut mendorong premi spot untuk WTI AS ke level tertinggi sepanjang masa, mencerminkan tingginya permintaan dari kawasan Asia dan Eropa.

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (Organization of the Petroleum Exporting Countries Plus/OPEC+) memutuskan meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei 2026. Namun, langkah ini dinilai belum tentu mampu meredakan tekanan pasokan.

Analis Rystad, Janiv Shah, menilai kebijakan tersebut masih menghadapi tantangan dari sisi ekspor. “Pergerakan OPEC tampaknya akan menghadapi tantangan berdasarkan ketersediaan ekspor,” ujarnya.

Ketidakpastian geopolitik dan distribusi energi global diperkirakan masih akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak dalam waktu dekat, dengan pelaku pasar menunggu perkembangan lanjutan dari negosiasi dan kondisi lapangan. []

Penulis: Hutama Prayoga | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *