Geopolitik Timur Tengah Tekan Rupiah dan IHSG, Peluang Rebound Terbuka

JAKARTA – Tekanan eksternal akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah diperkirakan masih membayangi pasar keuangan domestik, mendorong pergerakan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung fluktuatif pada perdagangan Jumat (27/03/2026), dengan peluang penguatan teknikal yang tetap terbuka.

Pergerakan IHSG diproyeksikan volatil setelah ditutup melemah 1,89 persen ke level 7.164,091 pada perdagangan Kamis (26/03/2026). Kondisi ini memunculkan peluang rebound secara teknikal di tengah tekanan pasar global.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.900 hingga Rp16.940 per dolar AS. Meski sempat menguat tipis pada perdagangan sebelumnya, tekanan eksternal diprediksi kembali memengaruhi pergerakan mata uang domestik.

Sebelumnya, rupiah di pasar spot ditutup menguat 7 poin atau 0,04 persen ke level Rp16.904 per dolar AS dari posisi Rp16.911, sebagaimana diberitakan Money, Kamis, (26/03/2026).

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.900- Rp 16.940 (per dollar AS),” ujar Ibrahim Assuaibi.

Faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar berasal dari dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait respons Iran terhadap proposal de-eskalasi konflik yang didukung Amerika Serikat. Ketidakpastian meningkat setelah tidak adanya pernyataan resmi dari Teheran serta bantahan mengenai jalur negosiasi langsung dengan Washington.

Situasi tersebut turut memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi global. Harga minyak mentah jenis Brent bahkan sempat menembus 119 dolar AS per barel pada awal bulan ini akibat potensi gangguan distribusi di Selat Hormuz.

Dari dalam negeri, Pemerintah Indonesia memastikan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat. Kebijakan ini dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) disebut masih cukup kuat untuk menahan dampak fluktuasi harga energi. Saat ini, Indonesian Crude Price (ICP) atau Harga Minyak Mentah Indonesia berada di kisaran 74 dolar AS per barel, relatif dekat dengan asumsi dasar sebesar 70 dolar AS.

“Meski ekonomi global alami resesi, ekonomi Indonesia nyatanya tetap mampu mencetak pertumbuhan positif di level 4,6 persen, hal ini murni buah kebijakan bauran fiskal dan moneter sehingga Indonesia berhasil menghindari jurang resesi tanpa harus mengambil langkah menaikkan harga BBM subsidi.” []

Penulis: Salsabila Putri | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *