Hakim Federal Perintahkan Pembebasan Anak 5 Tahun dari Tahanan Imigrasi AS

TEXAS — Putusan seorang hakim federal di Amerika Serikat kembali menyorot praktik penahanan imigrasi terhadap keluarga, khususnya anak-anak. Hakim Distrik AS Fred Biery memerintahkan pembebasan seorang bocah berusia lima tahun bernama Liam Conejo Ramos dan ayahnya, Adrian, yang sebelumnya ditahan oleh agen imigrasi di Pusat Residensial Keluarga Texas Selatan, Dilley, Texas.

Perintah pembebasan tersebut mewajibkan pihak imigrasi untuk melepaskan Liam dan ayahnya “sesegera mungkin” dan paling lambat pada Selasa, sembari proses hukum imigrasi keduanya tetap berjalan melalui sistem peradilan. Putusan itu menjadi perhatian luas setelah dibagikan kepada CNN oleh wakil hakim di ruang sidang dan pertama kali dilaporkan oleh San Antonio Express-News.

Sebelumnya, Liam dan Adrian ditangkap oleh agen imigrasi dari jalan masuk rumah mereka di pinggiran kota Minneapolis yang tengah diselimuti salju. Keduanya kemudian dibawa sejauh sekitar 1.300 mil ke Texas dan ditahan di fasilitas yang dirancang untuk menampung keluarga. Mereka telah menjalani penahanan selama lebih dari satu minggu.

Kuasa hukum keluarga menyambut putusan tersebut dengan lega dan menekankan pentingnya pemulihan kondisi psikologis keluarga setelah peristiwa yang mereka alami.
“Kami sekarang bekerja sama dengan klien kami dan keluarga mereka untuk memastikan reuni yang aman dan tepat waktu,” kata pengacara keluarga dalam pernyataan hari Sabtu.
“Kami senang bahwa keluarga sekarang dapat fokus untuk bersama dan menemukan kedamaian setelah cobaan traumatis ini,” sambungnya.

Dalam pertimbangannya, Hakim Biery menyampaikan kritik tajam terhadap tindakan pemerintah. Ia menilai penahanan tersebut mencerminkan lemahnya pemahaman terhadap nilai-nilai dasar yang terkandung dalam sejarah dan konstitusi Amerika Serikat. Biery bahkan menyinggung Deklarasi Kemerdekaan dan mengaitkannya dengan peringatan Thomas Jefferson terhadap kecenderungan kekuasaan otoriter.

Penahanan Liam menarik perhatian publik setelah beredar foto seorang agen imigrasi yang memegang ransel Spider-Man milik bocah tersebut, sementara Liam tampak mengenakan topi kelinci kartun. Gambar itu memicu gelombang kemarahan dan kritik terhadap kebijakan penegakan imigrasi pemerintahan Presiden Donald Trump, khususnya di Minneapolis.

Dalam keputusan yang tidak lazim, Biery menyertakan foto Liam di bagian akhir putusannya, tepat di bawah tanda tangan hakim. Ia juga menambahkan kutipan ayat Alkitab, yakni Matius 19:14 dan Yohanes 11:35, sebagai penegasan dimensi kemanusiaan dalam kasus tersebut.

Hakim menilai kasus ini berawal dari “upaya pemerintah yang salah kaprah dan tidak kompeten dalam mengejar kuota deportasi harian, bahkan jika itu mengharuskan trauma pada anak-anak”.
“Mengamati perilaku manusia menegaskan bahwa bagi sebagian dari kita, nafsu jahat untuk kekuasaan tanpa batas dan penerapan kekejaman dalam pencariannya tidak mengenal batas dan tidak memiliki rasa kemanusiaan,” tulis Biery.
“Dan hukum diabaikan,” sambungnya.

Selain itu, Biery mengkritik penggunaan surat perintah administratif yang kerap dipakai agen imigrasi federal untuk melakukan penangkapan tanpa tanda tangan hakim.
“Surat perintah administratif yang dikeluarkan oleh cabang eksekutif kepada dirinya sendiri tidak memenuhi syarat sebagai bukti yang cukup. Itu disebut rubah yang menjaga kandang ayam. Konstitusi mensyaratkan pejabat peradilan yang independen,” ucapnya.

Meski memerintahkan pembebasan, Biery mengakui bahwa Liam dan ayahnya masih berpotensi menghadapi deportasi akibat sistem imigrasi Amerika Serikat yang ia sebut “kuno”. Namun, menurutnya, proses tersebut seharusnya dijalankan secara tertib, adil, dan lebih manusiawi dibandingkan praktik yang berlaku saat ini. []

Siti Sholehah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *