Hanya 10.000 Jemaah Diizinkan Salat Jumat di Al-Aqsa
JAKARTA – Pemerintah Israel menetapkan pembatasan ketat terhadap akses warga Palestina ke kompleks Masjid Al-Aqsa selama bulan suci Ramadan 1447 H. Meski tetap membuka kesempatan bagi jemaah untuk melaksanakan salat Jumat, jumlah dan kategori usia yang diperbolehkan masuk dibatasi secara signifikan.
Melalui pengumuman resmi yang disampaikan COGAT, otoritas Israel menyatakan hanya 10.000 warga Palestina yang diizinkan memasuki kompleks tersebut setiap Jumat sepanjang Ramadan. Kebijakan itu mensyaratkan setiap jemaah memperoleh izin khusus harian sebelum dapat memasuki area yang juga dikenal oleh umat Yahudi sebagai Temple Mount.
“Sepuluh ribu jemaah Palestina akan diizinkan masuk ke Temple Mount untuk salat Jumat sepanjang bulan Ramadan, dengan syarat mendapatkan izin harian khusus terlebih dahulu,” demikian pengumuman COGAT.
Selain pembatasan jumlah, aturan usia turut diberlakukan. Pria Palestina hanya diizinkan masuk jika berusia minimal 55 tahun, sedangkan perempuan minimal 50 tahun. Anak-anak hingga usia 12 tahun diperbolehkan memasuki kompleks masjid dengan syarat didampingi kerabat tingkat pertama.
“Akses masuk untuk pria akan diizinkan mulai usia 55 tahun, untuk wanita mulai usia 50 tahun, dan untuk anak-anak hingga usia 12 tahun jika didampingi oleh kerabat tingkat pertama,” sebut pengumuman COGAT tersebut.
Kebijakan ini diterapkan di tengah tradisi Ramadan yang biasanya menghadirkan ratusan ribu jemaah Palestina ke Al-Aqsa, terutama pada hari-hari Jumat. Kompleks masjid yang berada di Yerusalem Timur tersebut memiliki arti penting bagi umat Islam sebagai situs suci ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di sisi lain, lokasi yang sama juga dihormati umat Yahudi sebagai tempat berdirinya kuil pertama dan kedua dalam sejarah keagamaan mereka.
Yerusalem Timur sendiri direbut Israel dalam perang tahun 1967 dan kemudian dianeksasi, sebuah langkah yang tidak diakui oleh komunitas internasional. Status kawasan ini hingga kini tetap menjadi salah satu isu paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina.
Sementara itu, otoritas Palestina di Yerusalem menyampaikan keberatan atas sejumlah pembatasan tambahan yang disebut menghambat persiapan Ramadan. Mereka menyebut Wakaf Islam Yerusalem, lembaga yang dikelola Yordania untuk mengatur administrasi kompleks Al-Aqsa, tidak diizinkan melakukan persiapan rutin seperti pemasangan peneduh dan pendirian klinik medis sementara.
Ketegangan juga meningkat setelah imam senior Al-Aqsa, Sheikh Muhammad al-Abbasi, mengungkapkan dirinya dilarang memasuki kompleks masjid.
“Saya telah dilarang masuk ke masjid selama seminggu, dan larangan itu dapat diperpanjang,” katanya.
Al-Abbasi menambahkan bahwa dirinya tidak menerima penjelasan mengenai alasan pelarangan tersebut, yang mulai berlaku sejak Senin (16/02/2026) waktu setempat.
Dalam pengaturan status quo yang telah berlangsung lama, umat Yahudi diperbolehkan mengunjungi kompleks Al-Aqsa, namun tidak diizinkan melaksanakan ibadah di area tersebut. Pemerintah Israel menyatakan tetap berkomitmen menjaga pengaturan tersebut, meskipun pihak Palestina mengkhawatirkan adanya perubahan bertahap terhadap kesepakatan yang ada.
Dalam beberapa tahun terakhir, meningkatnya kunjungan kelompok ultranasionalis Yahudi yang menolak larangan berdoa di kompleks tersebut turut memicu kekhawatiran dan ketegangan. Situasi ini menjadikan kebijakan pembatasan selama Ramadan sebagai sorotan internasional, mengingat Al-Aqsa bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol identitas religius dan nasional bagi rakyat Palestina. []
Siti Sholehah.
