Harga Beras di Garut Turun, Pengawasan Pasar Tetap Diperketat

GARUT – Harga beras di sejumlah pasar tradisional pada akhir Maret 2026 menunjukkan tren stabil cenderung menurun tipis, dipicu masuknya masa panen di sejumlah sentra produksi, meski pengawasan tetap diperketat karena masih ditemukan harga yang melampaui batas acuan pemerintah.

Pergerakan harga tersebut terpantau pada Sabtu (28/03/2026) di berbagai wilayah, khususnya di Kabupaten Garut (Garut), Jawa Barat (Jabar), berdasarkan pemantauan Badan Pangan Nasional dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Garut di sejumlah pasar utama.

Data Disperindag Garut mencatat beberapa jenis beras mengalami penurunan harga berkisar 0,59 persen hingga 1,11 persen dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan ini memberikan ruang bagi konsumen rumah tangga, terutama menjelang akhir bulan saat daya beli cenderung melemah.

Pemantauan dilakukan di sejumlah titik strategis seperti Pasar Guntur Ciawitali, Pasar Wanaraja, hingga Pasar Pameungpeuk yang merepresentasikan kondisi pasar dari wilayah utara hingga selatan Garut. Hasilnya menunjukkan dinamika harga yang relatif terkendali meskipun tetap berfluktuasi.

Namun demikian, tantangan masih muncul pada beras kategori premium. Di beberapa lokasi, harga jual masih tercatat melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah meningkatkan pengawasan distribusi dan penjualan di tingkat pedagang.

Upaya stabilisasi dilakukan melalui operasi pasar murah di sejumlah desa, termasuk Desa Cimurah dan Desa Sukamukti. Langkah ini bertujuan menekan spekulasi harga sekaligus menjaga keterjangkauan pangan bagi masyarakat.

Di sisi lain, pola konsumsi masyarakat juga mulai bergeser. Ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart memanfaatkan momentum Jumat Sabtu Minggu (JSM) dengan menawarkan diskon beras kemasan dan kebutuhan pokok lainnya. Promo ini berlangsung pada 27–29 Maret 2026 dan menjadi alternatif bagi konsumen untuk mendapatkan harga lebih kompetitif.

Tidak hanya itu, tren belanja daring melalui platform digital turut memengaruhi perilaku konsumen. Berbagai penawaran seperti potongan harga hingga 56 persen serta layanan pengiriman cepat mendorong masyarakat beralih ke transaksi berbasis aplikasi untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Dari sisi hulu, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani terpantau relatif stabil. Sejumlah daerah sentra produksi seperti Cianjur, Subang, hingga Tasikmalaya mulai memasuki masa panen raya. Kondisi ini berkontribusi terhadap ketersediaan pasokan beras di pasar.

Meski demikian, distribusi masih menjadi faktor krusial dalam menentukan harga akhir di tingkat konsumen. Gangguan logistik atau keterlambatan distribusi dapat memicu lonjakan harga secara tiba-tiba di beberapa wilayah.

Secara keseluruhan, tren harga pangan di Jabar, khususnya Garut, menunjukkan pola yang dinamis. Sebagian besar komoditas mengalami penurunan tipis antara 0,22 persen hingga 1,74 persen, namun terdapat pula komoditas tertentu yang melonjak hingga 32,6 persen akibat faktor musiman.

Pemerintah daerah melalui Satuan Tugas (Satgas) Pangan terus melakukan pemantauan intensif, termasuk pengecekan stok di gudang distributor untuk mencegah praktik penimbunan yang dapat memicu kenaikan harga tidak wajar.

Masyarakat diimbau untuk berbelanja secara bijak dengan membandingkan harga antar pasar serta memanfaatkan program promo yang tersedia tanpa melakukan pembelian berlebihan atau panic buying. Dengan perencanaan yang tepat, kebutuhan pangan di tengah fluktuasi harga tetap dapat terpenuhi secara optimal. []

Penulis: Fajar Ramadhan | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *