Harga Emas Melonjak Tajam, Sentimen Global Berbalik Positif

JAKARTA – Kenaikan harga emas global kembali menarik perhatian pelaku pasar setelah lonjakan signifikan terjadi di tengah meredanya tekanan inflasi akibat penurunan harga energi, sekaligus diwarnai ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Pada penutupan perdagangan Rabu, 25 Maret 2026, harga emas spot tercatat melonjak 1,8 persen ke level 4.552,94 dolar Amerika Serikat (AS) per ons, menandai pemulihan tajam dari posisi terendah dalam empat bulan terakhir pada awal pekan. Sementara itu, emas berjangka (futures) AS kontrak April juga menguat 3,4 persen ke level 4.552,30 dolar AS per ons.

Kenaikan ini dinilai tidak hanya didorong faktor teknikal, tetapi juga perubahan sentimen pasar global, terutama terkait meredanya harga minyak yang menekan ekspektasi inflasi. Kondisi tersebut membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS.

Analis Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan optimisme pasar meningkat seiring potensi meredanya konflik geopolitik yang berdampak pada harga energi. “Jika tekanan inflasi terus menyusut, bukan tidak mungkin harga “logam kuning” ini akan kembali melompat menuju level psikologis 5.000 Dolar AS per ons,” ujarnya, sebagaimana dilansir Rmol, Kamis, (26/03/2026).

Di sisi lain, dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan pasar. Laporan mengenai proposal perdamaian yang diajukan Washington sempat menekan harga minyak, meskipun respons Teheran masih menunjukkan sikap hati-hati.

Ketidakpastian semakin kompleks dengan adanya laporan kesiapan opsi militer tambahan di kawasan Teluk oleh Pentagon. Situasi ini menjaga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven di tengah risiko global yang belum sepenuhnya mereda.

Sebagai gambaran, harga emas sebelumnya sempat mencetak rekor tertinggi di level 5.594,82 dolar AS per ons pada akhir Januari 2026, setelah mencatat kenaikan hingga 64 persen dalam setahun terakhir.

Kenaikan harga juga terjadi pada logam mulia lainnya. Perak naik ke level 72,41 dolar AS per ons, sementara platinum menguat tipis menjadi 1.936,00 dolar AS per ons. Namun, paladium justru bergerak sebaliknya dengan penurunan 1 persen ke level 1.424,99 dolar AS per ons.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar logam mulia masih sangat dipengaruhi kombinasi faktor ekonomi makro dan geopolitik, sehingga pergerakannya berpotensi tetap fluktuatif dalam waktu dekat. []

Penulis: Reni Erina | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *