Harga Minyak Dunia Bergejolak, Dipicu Konflik Timur Tengah
JAKARTA – Harga minyak dunia mengalami volatilitas tinggi pada perdagangan Kamis (10/04/2026), setelah sempat melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah, namun kembali terkoreksi menyusul sinyal negosiasi antara Israel dan Lebanon.
Kenaikan harga terjadi pada minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei yang sempat melesat lebih dari 3 persen sebelum ditutup di level USD 97,87 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai acuan global untuk pengiriman Juni naik lebih dari 1 persen dan berakhir di posisi USD 95,92 per barel.
Lonjakan harga sebelumnya dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap pembatasan jalur distribusi energi di Selat Hormuz. Iran dilaporkan membatasi lalu lintas kapal meskipun terdapat kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS). Kondisi ini memicu kekhawatiran terganggunya pasokan minyak global.
Chief Executive Officer (CEO) Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) Sultan Ahmed Al Jaber menyoroti pembatasan tersebut sebagai bentuk tekanan terhadap kebebasan navigasi. “Itu bukan kebebasan navigasi. Itu adalah pemaksaan,” ujarnya.
Namun, penguatan harga tidak bertahan lama setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan kesiapan untuk membuka negosiasi dengan Lebanon dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menilai situasi gencatan senjata masih rentan. “Ketidakpercayaan mendalam yang kita miliki terhadap Amerika Serikat berakar dari pelanggaran berulang-ulang terhadap segala bentuk komitmen — sebuah pola yang sayangnya telah terulang kembali,” kata Ghalibaf.
Ketegangan juga diperkuat oleh tudingan Iran terkait pelanggaran kesepakatan, termasuk serangan Israel di Lebanon, pelanggaran wilayah udara Iran oleh pesawat nirawak, serta penolakan terhadap hak pengayaan uranium.
Pemerintah AS merespons dinamika tersebut dengan pendekatan hati-hati. Wakil Presiden (Wapres) Amerika Serikat JD Vance menyatakan bahwa proses gencatan senjata memang kompleks dan tidak mencakup seluruh aspek konflik kawasan. “Gencatan senjata selalu rumit,” kata Vance, sebagaimana dilansir CNBC, Jumat (10/04/2026).
Dengan dinamika geopolitik yang masih berkembang, pergerakan harga minyak diperkirakan akan tetap fluktuatif. Pasar global akan terus mencermati perkembangan negosiasi serta stabilitas jalur distribusi energi sebagai faktor utama penentu arah harga ke depan. []
Penulis: Septian Deny | Penyunting: Redaksi01
