Harga Minyak Naik di Tengah Ancaman Serius ke Iran

JAKARTA – Lonjakan harga minyak dunia kembali terjadi di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan global, setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran terhadap akses distribusi energi melalui Selat Hormuz. Kondisi ini mendorong harga minyak naik tipis namun berpotensi berlanjut seiring eskalasi konflik.

Pada perdagangan terbaru, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat menguat 0,78 persen menjadi USD112,41 per barel, sementara minyak mentah Brent naik 0,68 persen ke level USD109,77 per barel. Kenaikan ini mencerminkan respons pasar terhadap ancaman geopolitik yang berisiko mengganggu sekitar 20 persen jalur distribusi minyak global.

Ketegangan dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menekan Iran untuk segera membuka kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari kesepakatan yang tengah dinegosiasikan. Ancaman tersebut mempertegas posisi AS yang siap mengambil langkah keras jika tuntutan tidak dipenuhi.

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran dinilai menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga energi global. Jalur strategis tersebut merupakan akses vital distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara, sehingga gangguan operasionalnya berdampak signifikan terhadap pasokan dunia.

Lembaga riset pasar TD Securities memperkirakan potensi kehilangan pasokan energi dalam jumlah besar akibat konflik ini. Gangguan distribusi bahkan disebut dapat menghilangkan hampir 1 miliar barel minyak hingga akhir bulan, memperburuk ketidakseimbangan pasar global.

Di sisi lain, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (Organization of the Petroleum Exporting Countries Plus/OPEC+) telah menyepakati peningkatan produksi untuk meredam tekanan harga. Namun, hambatan distribusi dan kerusakan infrastruktur energi dinilai menjadi kendala utama dalam menyalurkan tambahan pasokan tersebut.

Kuwait Petroleum Corporation juga melaporkan adanya serangan terhadap fasilitas energi mereka, yang semakin memperburuk kondisi pasokan global. OPEC+ pun mengingatkan bahwa pemulihan infrastruktur membutuhkan waktu dan biaya besar.

Situasi ini menimbulkan kekhawatiran luas di pasar keuangan global, terutama terkait potensi kenaikan inflasi akibat lonjakan biaya energi. Pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik sebagai faktor utama yang akan menentukan arah harga minyak dalam jangka pendek, sebagaimana dilansir Gotrade News, Selasa (07/04/2026). []

Penulis: Rendy Andriyanto | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *