Harga Properti Melonjak, Gen-Z Pilih Sewa daripada Beli

JAKARTA – Pergeseran cara pandang generasi muda terhadap kepemilikan hunian mulai terlihat jelas, seiring meningkatnya tekanan ekonomi dan perubahan gaya hidup yang membuat rumah tidak lagi menjadi prioritas utama, khususnya bagi Generasi Z (Gen-Z). Fenomena ini mencerminkan perubahan mendasar dalam memaknai kebutuhan tempat tinggal di tengah dinamika sosial dan ekonomi modern.

Perubahan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor keterjangkauan dan preferensi hidup. Harga properti di kawasan perkotaan seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya terus meningkat, sementara pertumbuhan pendapatan generasi muda tidak sebanding. Kondisi ini membuat kepemilikan rumah bagi kelompok usia 20–35 tahun semakin sulit dicapai dibanding generasi sebelumnya.

Selain faktor ekonomi, pola pikir Gen-Z juga mengalami transformasi. Kepemilikan rumah yang dulu dianggap simbol keberhasilan kini mulai bergeser menjadi opsi sekunder. Banyak generasi muda lebih memilih fleksibilitas melalui sewa hunian, co-living space, atau mobilitas antar kota yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan mereka saat ini.

Seorang mahasiswa Indonesia di luar negeri mempertanyakan fenomena ini dari sisi rasionalitas ekonomi. Ia menilai bahwa rasio harga rumah terhadap pendapatan di kota besar sudah melampaui batas keterjangkauan, sehingga rumah tidak lagi menjadi tujuan realistis, melainkan beban finansial jangka panjang.

Data berbagai laporan perumahan menunjukkan tingkat kepemilikan rumah di kalangan usia muda cenderung menurun. Sementara itu, laporan lembaga internasional seperti World Bank mengindikasikan rasio harga rumah terhadap pendapatan di Indonesia telah melampaui standar ideal, bahkan mencapai dua hingga tiga kali lipat di kota besar.

Namun demikian, tidak seluruhnya dipicu keterbatasan ekonomi. Sejumlah Gen-Z yang telah bekerja tetap justru secara sadar tidak menjadikan rumah sebagai prioritas utama. Mereka tetap membutuhkan tempat tinggal, tetapi tidak harus dalam bentuk kepemilikan aset. Hunian dipandang lebih sebagai kebutuhan fungsional daripada simbol status.

Perubahan ini juga berkaitan dengan transformasi struktur sosial. Relasi sosial tidak lagi bertumpu pada kedekatan geografis, melainkan jaringan digital dan kesamaan minat. Konsep ruang privat seperti my time menjadi lebih penting dibanding interaksi sosial berbasis lingkungan tempat tinggal.

Sebagian generasi muda bahkan memilih strategi alternatif dengan membeli tanah di wilayah pinggiran sebagai investasi jangka panjang yang lebih fleksibel. Rumah diposisikan sebagai rencana masa depan, bukan kebutuhan mendesak saat ini.

Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan publik yang masih berfokus pada kepemilikan rumah dengan realitas generasi muda yang mengutamakan fleksibilitas. Program seperti Kredit Pemilikan Rumah (KPR) jangka panjang dan subsidi perumahan dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan gaya hidup modern.

Dengan demikian, perubahan sikap Gen-Z terhadap properti bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari transformasi sosial yang lebih luas. Pertanyaan yang muncul bukan lagi tentang keinginan memiliki rumah, melainkan relevansi konsep kepemilikan itu sendiri di masa depan, sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa (31/03/2026). []

Penulis: Tantan Hermansah | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *