Harga Sembako Bergejolak, Pemerintah Percepat Operasi Pasar di Akhir Maret 2026
JAKARTA – Pemerintah daerah di berbagai wilayah Indonesia memperkuat intervensi pasar menyusul fluktuasi harga bahan pokok yang masih tinggi pasca perayaan hari besar keagamaan pada akhir Maret 2026. Kenaikan harga pada sejumlah komoditas utama seperti daging sapi, telur ayam, dan cabai mendorong langkah cepat untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menekan potensi inflasi daerah.
Memasuki Sabtu (28/03/2026), dinamika harga pangan belum sepenuhnya stabil. Sejumlah daerah melaporkan harga daging sapi masih bertahan di kisaran tinggi akibat biaya distribusi dan permintaan yang belum menurun signifikan. Sementara itu, komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang merah mengalami tekanan akibat faktor cuaca yang memengaruhi produksi di tingkat petani.
Di Surabaya, data Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat stabilitas pada awal tahun, namun tren berubah menjelang akhir Maret dengan kenaikan harga pada komoditas bumbu dapur. Perbedaan harga di pasar tradisional bahkan terlihat dalam rentang waktu harian, terutama antara pagi dan sore.
Sementara itu, Palangka Raya mengambil langkah tegas dalam mengantisipasi lonjakan harga. Pemerintah Kota (Pemkot) Palangka Raya melalui Wali Kota (Wali Kota) Palangka Raya Fairid Naparin menegaskan kesiapan aparat dalam mengendalikan harga di lapangan.
“Jika ditemukan kenaikan harga yang melampaui batas kewajaran, intervensi pasar akan segera dilakukan secara masif melalui operasi pasar mandiri maupun terpadu,” demikian disampaikan sebagaimana dilansir Rakyat Merdeka, Jumat, (28/03/2026).
Berdasarkan pantauan harga rata-rata Maret 2026, beberapa komoditas utama tercatat sebagai berikut: beras medium sekitar Rp14.500 per kilogram, minyak goreng curah Rp16.000 per liter, daging sapi Rp155.000 per kilogram, telur ayam Rp31.000 per kilogram, dan cabai rawit merah Rp75.000 per kilogram. Ketersediaan pasokan relatif aman, meski distribusi di beberapa wilayah masih menjadi tantangan.
Untuk meredam gejolak harga, sejumlah daerah menggelar pasar murah secara masif. Di Surabaya, Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Dinkopumdag) Surabaya menjadwalkan pasar murah di 93 titik yang tersebar di 31 kecamatan sepanjang Maret 2026. Program ini dinilai efektif menekan potensi panic buying sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.
Selain intervensi pasar, pemerintah juga mengandalkan program bantuan sosial (bansos) sebagai penyangga daya beli masyarakat. Program Keluarga Harapan (PKH) tetap disalurkan sesuai jadwal dengan besaran bantuan bervariasi, antara lain Rp750.000 untuk ibu hamil dan balita serta Rp600.000 untuk lansia dan penyandang disabilitas. Penyaluran ini mengacu pada Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Di sisi lain, tekanan global turut memengaruhi harga domestik. Kenaikan harga energi dunia berdampak pada biaya produksi dan distribusi pangan, sehingga memicu kenaikan harga di tingkat konsumen. Kondisi ini juga mendorong masyarakat mulai melirik instrumen investasi seperti emas sebagai safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi.
Meski demikian, pemerintah memastikan stok pangan nasional dalam kondisi cukup untuk beberapa bulan ke depan. Masyarakat diimbau untuk berbelanja secara bijak dan tidak melakukan penimbunan agar stabilitas harga tetap terjaga.
Dengan kombinasi intervensi pasar, distribusi bantuan sosial, dan pengawasan ketat rantai pasok, pemerintah berharap tekanan harga bahan pokok dapat segera mereda serta daya beli masyarakat tetap terjaga hingga memasuki kuartal kedua 2026. []
Penulis: Salsabila Putri | Penyunting: Redaksi01
