Harga Telur Stabil, Sinyal Inflasi Pangan Mulai Terkendali

JAKARTA – Stabilitas harga telur ayam ras di sejumlah daerah pada Kamis, 2 April 2026, menjadi indikator terkendalinya pasokan pangan nasional, sekaligus memberi sinyal positif terhadap upaya pengendalian inflasi yang selama ini menjadi perhatian pemerintah.

Kondisi harga yang relatif tidak berubah dibanding hari sebelumnya tercatat di berbagai pasar, termasuk di wilayah Tangerang Selatan dan Kabupaten Batang. Data menunjukkan harga telur ayam ras berada di kisaran Rp27.300 hingga Rp27.800 per kilogram dengan ketersediaan stok yang tergolong aman.

Stabilnya harga tersebut mencerminkan keseimbangan antara produksi dan konsumsi, di mana pasokan telur nasional dilaporkan dalam kondisi surplus. Situasi ini dinilai mampu meredam potensi lonjakan harga yang kerap terjadi pada komoditas pangan strategis.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebelumnya memastikan bahwa stok telur ayam ras dalam kondisi mencukupi. Pernyataan tersebut sejalan dengan kondisi pasar saat ini, di mana harga tidak mengalami gejolak berarti, sebagaimana diberitakan Bloomberg Technoz, Kamis, (02/04/2026).

Di Tangerang Selatan, harga telur di sejumlah pasar seperti Pasar Ciputat, Pasar Serpong, dan Pasar Jombang terpantau stabil dengan pergerakan yang sangat tipis. Sementara itu, di Kabupaten Batang, harga telur juga tidak menunjukkan perubahan signifikan dengan distribusi yang berjalan lancar.

Faktor utama yang menjaga stabilitas ini adalah produksi telur yang melampaui kebutuhan konsumsi. Data menunjukkan konsumsi telur ayam ras masyarakat pada 2025 mencapai rata-rata 2,362 kilogram per kapita per minggu, namun angka tersebut masih dapat diimbangi oleh kapasitas produksi nasional.

Selain itu, intervensi pemerintah melalui berbagai program seperti Gerakan Pangan Murah (GPM) serta pengawasan distribusi turut berperan menjaga harga tetap terkendali. Bank Indonesia (BI) juga menekankan pentingnya stabilitas harga pangan sebagai komponen utama pengendalian inflasi.

Telur ayam ras memiliki kontribusi besar dalam pembentukan inflasi karena termasuk kebutuhan pokok masyarakat. Oleh karena itu, kestabilan harga komoditas ini dinilai membantu menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga.

Meski demikian, sejumlah faktor risiko tetap perlu diwaspadai, seperti kenaikan harga pakan ternak, perubahan cuaca ekstrem, hingga potensi gangguan distribusi. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi biaya produksi dan berdampak pada harga jual di pasar.

Di sisi lain, variasi harga juga ditemukan pada platform perdagangan daring atau online, meskipun harga acuan tetap mengacu pada pasar tradisional yang dipantau pemerintah. Perbedaan harga ini dipengaruhi oleh lokasi, jumlah pembelian, serta program promosi dari penjual.

Ke depan, pemerintah bersama pelaku usaha perunggasan diharapkan terus menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan. Upaya peningkatan efisiensi produksi dan distribusi dinilai menjadi kunci agar harga telur tetap stabil dalam jangka panjang.

Dengan kondisi pasokan yang masih melimpah dan distribusi yang relatif lancar, harga telur ayam ras diproyeksikan tetap stabil dalam waktu dekat, sekaligus memberikan kepastian bagi konsumen dan pelaku usaha dalam merencanakan kebutuhan pangan. []

Penulis: Rizky Mahendra | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *