IHSG Anjlok 0,94 Persen, Tekanan Global Picu Aksi Jual

JAKARTA – Tekanan eksternal dan aksi ambil untung (profit taking) mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat (27/03/2026), dengan penurunan 0,94 persen atau 67,52 poin ke level 7.097,06.

Pelemahan ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian global, terutama akibat ketegangan geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi yang berkepanjangan. Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 7.140,63 sebelum turun hingga titik terendah di 7.086,13.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), mayoritas saham bergerak di zona merah dengan 379 saham melemah, 274 saham menguat, dan 167 saham stagnan. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual yang cukup merata di berbagai sektor utama.

Sektor infrastruktur menjadi penekan terbesar dengan koreksi 1,29 persen, diikuti sektor industri sebesar 1,27 persen dan teknologi 0,97 persen. Pelemahan ini dipicu kekhawatiran terhadap tingginya biaya pinjaman serta perlambatan aktivitas ekonomi yang berdampak pada kinerja emiten.

Sentimen global turut memperburuk kondisi pasar. Kenaikan harga minyak mentah jenis Brent ke level USD 85,24 per barel meningkatkan kekhawatiran inflasi, sehingga bank sentral diperkirakan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Hal ini membuat investor cenderung mengalihkan dana ke aset aman (safe haven).

Seiring kondisi tersebut, aliran modal keluar (capital outflow) dari investor asing juga terpantau meningkat, memperkuat tekanan terhadap pasar saham domestik. Pelemahan IHSG bahkan sudah terlihat sejak awal perdagangan, sebagaimana dilansir Antara, Jumat (27/03/2026).

Meski indeks melemah, aktivitas perdagangan masih relatif tinggi dengan total 1,39 juta kali transaksi, volume 19,81 miliar lembar saham, dan nilai transaksi mencapai Rp11,78 triliun. Hal ini menunjukkan likuiditas pasar tetap terjaga di tengah tekanan.

Indeks LQ45, yang terdiri dari saham berkapitalisasi besar dan likuid, turut mengalami penurunan dan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi psikologi pasar secara keseluruhan.

Di sisi lain, harga emas batangan domestik juga mengalami koreksi ke level Rp2.810.000 per gram, mencerminkan pengaruh penguatan dolar Amerika Serikat terhadap permintaan global logam mulia.

Kondisi pasar yang fluktuatif ini menegaskan pentingnya kehati-hatian investor dalam mengambil keputusan, termasuk melakukan diversifikasi portofolio dan menjaga manajemen risiko di tengah dinamika ekonomi global yang belum stabil. []

Penulis: Intan Permatasari | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *